Siwindu.com – Momentum Milangkala / Hari Jadi (Harjad) ke-528 Kuningan, Selasa, 1 September 2026, tidak hanya diwarnai berbagai seremoni dan perayaan. Forum Jamaah Indonesia (FJI) Kuningan turut menyuarakan perhatian terhadap persoalan sosial yang dinilai perlu mendapat perhatian serius, khususnya ancaman narkoba dan tantangan moral di tengah perkembangan media sosial.
Ketua FJI Kuningan, T Budiarto, dalam tulisannya dengan tema “Kota Kuningan Bebas Narkoba dan LGBT”, menyerukan agar seluruh elemen masyarakat memperkuat pengawasan terhadap peredaran narkoba, sekaligus meningkatkan ketahanan keluarga dan pendidikan karakter bagi generasi muda.
“Kuningan harus bebas narkoba dan bebas LGBT,” tegas Budiarto.
Menurut Budiarto, Kuningan bukan hanya daerah yang memiliki kekayaan alam, sejarah, dan budaya, tetapi juga menjadi rumah bagi generasi penerus yang harus dijaga bersama.
Ia menilai ancaman narkoba kini tidak hanya berada di lingkungan tertentu, melainkan berpotensi menyasar berbagai lapisan masyarakat, terutama kalangan generasi muda.
“Bebas narkoba, karena narkoba merampas masa depan anak-anak kita. Satu gram sabu bisa menghancurkan satu keluarga. Kita tidak boleh memberi ruang sedikit pun bagi pengedar dan pengguna,” ujarnya.
Selain narkoba, FJI Kuningan juga menyoroti perkembangan konten dan komunitas LGBT di media sosial. Budiarto berpandangan, konten yang menurutnya mempromosikan gaya hidup tertentu perlu menjadi perhatian bersama, terutama dalam konteks pendidikan dan perlindungan anak.
Namun demikian, pandangan tersebut merupakan sikap FJI Kuningan dan bukan representasi bahwa seluruh masyarakat Kuningan memiliki pandangan yang sama.
Budiarto menawarkan sejumlah langkah yang dinilainya perlu dilakukan secara bersama-sama untuk menghadapi berbagai tantangan yang dihadapi generasi muda.
Pertama, memperkuat pengawasan terhadap peredaran narkoba dengan melibatkan aparat penegak hukum, pemerintah daerah, sekolah, tokoh agama, tokoh masyarakat hingga lingkungan RT/RW.
Menurutnya, pemberantasan narkoba tidak cukup hanya mengandalkan aparat penegak hukum. Diperlukan kepedulian masyarakat agar potensi peredaran narkoba dapat dideteksi dan dicegah sejak dari lingkungan terkecil.
Kedua, memperkuat pendidikan karakter dan budi pekerti sejak dini. Keluarga dan sekolah, kata dia, memiliki peran strategis dalam membangun ketahanan anak agar mampu menghadapi berbagai pengaruh lingkungan maupun derasnya arus informasi di media sosial.
Ketiga, menciptakan ruang publik dan lingkungan digital yang sehat bagi anak-anak dan generasi muda. Menurutnya, kemajuan teknologi harus diimbangi dengan pendampingan dan literasi digital sehingga anak-anak tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu memilah informasi dan konten yang mereka konsumsi.
Budiarto menilai Hari Jadi Kuningan seharusnya tidak berhenti pada perayaan dan seremoni tahunan. Momentum hari jadi, menurutnya, juga harus menjadi ruang untuk mengevaluasi berbagai persoalan sosial sekaligus membangun visi mengenai masa depan generasi Kuningan.
Ia berharap dalam satu dekade mendatang Kuningan mampu menjadi daerah yang semakin kuat dalam menekan penyalahgunaan narkoba, memperkuat pendidikan karakter, menjaga nilai budaya, serta menciptakan lingkungan yang aman bagi anak-anak dan generasi muda.
“Mari kita jaga Kuningan bersama. Bukan dengan kebencian, tetapi dengan ketegasan dan cinta. Cinta kepada anak cucu kita, cinta kepada tanah Sunda, cinta kepada Indonesia,” katanya.
Seruan FJI Kuningan tersebut sekaligus membuka ruang diskusi lebih luas mengenai tanggung jawab pemerintah, aparat penegak hukum, keluarga, sekolah, tokoh agama, organisasi kemasyarakatan, dan masyarakat dalam menghadapi persoalan narkoba serta tantangan perkembangan media sosial.
Di sisi lain, upaya menjaga generasi muda juga perlu dilakukan dengan tetap mengedepankan perlindungan anak, pendidikan, literasi digital, serta menghindari stigma dan diskriminasi terhadap kelompok tertentu.
SIWINDU.COM Berita Kuningan Terbaru Hari Ini
