Raksasa Minyak AS Raup Untung 130 Miliar Dolar di Tengah Perang Iran

Perang Iran, Raksasa Minyak AS Raup Untung 130 Miliar Dolar

Konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Iran telah bertransformasi menjadi ladang keuntungan masif bagi industri minyak dan gas AS. Di saat warga Amerika bergelut dengan rekor harga bahan bakar tertinggi, puluhan raksasa energi justru mencetak lonjakan laba bersih yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah modern industri minyak dunia.

Lonjakan Laba Tiga Kali Lipat

Dalam enam bulan terakhir—terhitung dari April hingga September—lebih dari 50 perusahaan minyak dan gas skala besar AS meraup total keuntungan melampaui 130 miliar dolar AS. Angka fantastis ini, seperti yang diungkapkan dalam analisis The New York Times, berbanding terbalik dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya di mana industri ini “hanya” mencatatkan laba kolektif kurang dari 47 miliar dolar AS. Pendapatan ini berakar dari gangguan fatal pada rantai pasokan global, terutama pengiriman minyak melalui Selat Hormuz yang menguasai seperlima konsumsi minyak dunia.

Grafik lonjakan keuntungan industri minyak AS selama perang Iran
Ilustrasi pergerakan laba dan indeks sektor minyak dan gas Amerika Serikat. (Sumber: S&P Global Market Intelligence/The New York Times)

Kuartal ketiga tahun ini menjadi tonggak keberhasilan finansial bagi dua entitas terbesar AS. Laporan terbaru CNN Business menyoroti kinerja ExxonMobil yang mencetak laba 15,4 miliar dolar AS atau naik lebih dari dua kali lipat dibanding tahun lalu. Sementara itu, pendapatan penyesuaian Chevron melonjak 186 persen menyentuh angka 10,4 miliar dolar AS. Laba gabungan dari lima raksasa global—ExxonMobil, Chevron, BP, Shell, dan TotalEnergies—mencapai 56,3 miliar dolar AS pada kuartal ketiga saja.

Konsumen Menanggung Beban Perang

Di balik gemerlap laporan keuangan sektor korporat, konsumen menanggung beban berat di pompa bensin. Harga rata-rata nasional untuk bensin reguler menyentuh 4,20 dolar AS per galon, naik drastis dari 2,98 dolar AS sebelum eskalasi militer dimulai pada akhir Februari lalu. Sektor logistik dan agrikultur juga terpukul keras.

Baca Juga:  Trump Soal Ancaman Serangan Iran: Silakan Saja Lenyapkan Los Angeles – Reaksi Pemerintah AS dan NATO

Menurut data rinci yang dilansir oleh New York Post, harga solar (diesel) telah melonjak sekitar 72 persen, dari 3,68 menjadi 6,32 dolar AS per galon. Analisis Moody’s Analytics mengestimasi bahwa rumah tangga AS rata-rata harus mengeluarkan biaya tambahan sebesar 1.184 dolar AS sejak perang pecah, secara eksklusif untuk membayar bahan bakar mahal.

Warga Amerika mengisi bahan bakar di tengah lonjakan harga bensin
Lonjakan harga bahan bakar telah membebani rumah tangga dan sektor industri AS dengan pengeluaran ekstra. (Sumber: New York Post)

Retorika Politik dan Portofolio Presiden

Meroketnya harga BBM dan laba korporasi telah memicu perdebatan politik yang panas menjelang pemilu sela. Presiden Donald Trump awalnya mengkritik keras keuntungan industri ini. Pada Agustus lalu, ia sempat mendesak ExxonMobil dan Chevron untuk memotong harga eceran dan mengembalikan keuntungan kepada publik. Namun, retorika tersebut berbalik 180 derajat pada kampanye di Georgia baru-baru ini.

“Negara kita menghasilkan ratusan miliar dolar karena apa yang terjadi di Timur Tengah, karena mereka datang ke Texas, Oklahoma, dan Louisiana untuk mengambil minyak itu. Kita menghasilkan keuntungan yang luar biasa besar.”

Pernyataan ini muncul di tengah temuan dari Komite Ekonomi Gabungan Kongres dari fraksi Demokrat, yang menelusuri dokumen pengungkapan keuangan presiden. Temuan tersebut mengindikasikan bahwa nilai kepemilikan saham Trump di sektor minyak dan gas melonjak hingga 35,8 juta dolar AS pada paruh pertama tahun ini. Hampir 94 persen dari pembelian saham migas tersebut dilaporkan terjadi setelah perang dengan Iran dimulai.

Pihak Gedung Putih segera membantah adanya benturan kepentingan atau aktivitas yang melanggar hukum. Mereka menegaskan bahwa pengembalian investasi tersebut sekadar cerminan dari kinerja positif pasar saham dan dikelola secara penuh oleh manajer investasi independen.

Di sisi lain, para petinggi perusahaan energi merasa tidak perlu meminta maaf atas rezeki nomplok ini. Mereka berargumen bahwa fasilitas penyulingan telah bekerja di batas kapasitas maksimal untuk mencegah krisis pasokan bensin domestik di tengah kekacauan rantai pasok global.

Baca Juga:  Siap-siap! Avanza hingga Xpander Tak Bisa Lagi Isi Pertalite Mulai 1 Juni 2026?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *