Budaya Sunda Tergerus K-Pop dan Drakor, Tina Wiryawati Minta Langkah Konkret

1 hari ago 2 Dilihat

Siwindu.com – Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat Fraksi Gerindra, Hj Tina Wiryawati SH MM, mengingatkan pentingnya langkah konkret dalam menjaga dan melestarikan budaya Sunda di tengah derasnya arus budaya asing yang semakin digandrungi generasi muda. Menurutnya, keberadaan Peraturan Daerah (Perda) Kebudayaan harus menjadi instrumen nyata untuk memperkuat identitas budaya daerah, bukan sekadar aturan yang berhenti di atas kertas.

Hal tersebut disampaikannya saat menanggapi pentingnya penguatan budaya lokal di tengah fenomena maraknya pengaruh budaya populer luar negeri, khususnya Korea Selatan, yang kini begitu dekat dengan kehidupan Generasi Z dan Generasi Alpha.

“Perdasusnya mungkin saya memang tidak ada di pansus. Tapi saya adalah salah satu yang sangat mendukung keberadaan Perda Budaya untuk Jawa Barat. Karena saya melihat bahwa generasi ke depan ini, kalau kita tidak mempertahankan budaya kita dan dituangkan secara perda, saya khawatir generasi muda kita ke depan itu akan semakin hilang akar budayanya,” ujar Tina, Senin (1/6/2026).

Ia menilai budaya merupakan pintu masuk yang sangat efektif dalam membangun pengaruh suatu bangsa. Tina mencontohkan Jepang yang berhasil memperkenalkan identitas negaranya melalui budaya sebelum memperluas pasar produk-produknya ke berbagai negara.

“Kalau kita melihat Jepang, sebelum mereka mengadakan perdagangan atau menjual produk-produknya, mereka masuk dari budaya dulu. Budaya mereka sampai hari ini bisa diterima oleh bangsa Indonesia. Nah, ke mana budaya Sunda kita? Kalau kita tidak serius menuangkannya ke dalam peraturan, saya khawatir jati diri kita sebagai orang Sunda dan masyarakat Jawa Barat akan hilang karena termakan budaya luar,” katanya.

Menurut Tina, tantangan terbesar saat ini adalah bagaimana menghadirkan budaya Sunda dalam bentuk yang dapat diterima dan diminati oleh generasi muda. Karena itu, ia meminta pemerintah maupun para pemangku kebijakan untuk tidak hanya berfokus pada pembentukan regulasi, tetapi juga menghadirkan program-program yang benar-benar menyentuh kalangan muda.

Baca Juga:  Bukan Tambang Bukan Pabrik, Desa Ini Pilih Jaga Alam dan Budaya, Hasilnya Bikin Iri!​

“Saya menunggu aksi nyata kegiatan budaya Sunda yang benar-benar bisa penetrasi terhadap anak-anak muda dan nyangkut di mereka. Jangan hanya bikin perda asal perda, tapi hilang entah ke mana tanpa ada kegiatan nyata yang diterima oleh Gen Z maupun Gen Alpha,” tegasnya.

Saat ditanya mengenai dominasi budaya Korea melalui musik dan film yang kini begitu kuat di kalangan anak muda, Tina menilai kondisi tersebut harus menjadi bahan evaluasi bagi semua pihak untuk mengemas budaya lokal secara lebih menarik dan relevan dengan perkembangan zaman.

Sebagai langkah awal, ia berencana mendorong promosi budaya melalui pencak silat. Menurutnya, pencak silat memiliki potensi besar karena bukan hanya merupakan warisan budaya, tetapi juga telah dikenal dunia sebagai cabang olahraga internasional.

“Saya ingin mendokumentasikan atau mem-podcast-kan, bahasa sekarang ya, untuk satu cabang dulu yaitu pencak silat. Mengapa pencak silat? Karena saya melihat pencak silat ini sudah masuk ke salah satu cabang olahraga dunia, dan kita juga punya aktor-aktor laga Indonesia yang sudah masuk Hollywood,” ujarnya.

Tina menilai pengenalan pencak silat kepada generasi muda perlu dilakukan melalui pendekatan yang lebih kreatif. Ia mengusulkan agar pencak silat dikemas dalam bentuk film pendek, konten digital, maupun karya kreatif lainnya yang dekat dengan keseharian anak muda.

“Kalau drakor bisa menarik perhatian mereka, kenapa pencak silat tidak bisa dikemas menjadi sesuatu yang menarik? Kita harus mencari cara supaya budaya kita bisa diterima oleh generasi sekarang,” katanya.

Selain pencak silat, Tina juga menyoroti berbagai kekayaan budaya Nusantara lainnya seperti debus, jaipongan, hingga berbagai tradisi lokal yang dinilai memiliki keunikan dan daya tarik tinggi apabila dikemas secara modern.

Baca Juga:  Emup Muplihudin Pertanyakan Kelanjutan Gagasan Bupati Tentang Desa Budaya Kuningan

Menurutnya, budaya tidak hanya berkaitan dengan identitas dan kebanggaan daerah, tetapi juga memiliki nilai ekonomi yang besar. Ketika budaya berkembang, sektor lain seperti kuliner, pariwisata, kerajinan, hingga ekonomi kreatif juga akan ikut tumbuh.

“Kalau kita bicara budaya, kita bicara film. Dari budaya tersebut akan masuk makanan, produk-produk, dan sektor lainnya. Dari sana akan masuk nilai ekonomi. Selain rasa bangga terhadap negara, ke depan budaya juga bisa menjadi kekuatan ekonomi,” ungkapnya.

Ia pun berharap keberadaan Perda Kebudayaan dapat benar-benar diterjemahkan ke dalam berbagai program inovatif yang melibatkan generasi muda sebagai pelaku utama.

“Perda ini harus aktif, bukan hanya sekadar tulisan. Harus ada kegiatan nyata yang bisa diterima dan dicintai oleh anak-anak muda kita,” tandasnya.

Di akhir keterangannya, Tina juga mendorong anggota DPRD di daerah untuk menginisiasi lahirnya Perda Kebudayaan di tingkat kabupaten, termasuk di Kabupaten Kuningan, sebagai bentuk komitmen bersama dalam menjaga dan mengembangkan warisan budaya daerah secara berkelanjutan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *