Siwindu.com – Momentum Hari Lahir Pancasila yang diperingati setiap 1 Juni menjadi pengingat penting bagi bangsa Indonesia untuk kembali memahami dan mengamalkan nilai-nilai dasar negara yang digagas oleh Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno.
Hal tersebut disampaikan mantan Ketua GMNI Kuningan periode 2003-2006, Uha Juhana, dalam refleksinya memperingati Hari Lahir Pancasila 1 Juni 2026 yang juga bertepatan dengan rangkaian Bulan Bung Karno dan peringatan 125 tahun kelahiran Sang Proklamator.
Menurut Uha, Pancasila tidak dapat dilepaskan dari tiga momentum penting dalam sejarah bangsa. Pertama, pidato Soekarno pada Sidang BPUPKI tanggal 1 Juni 1945 yang memperkenalkan Pancasila sebagai dasar negara atau philosofische grondslag Indonesia merdeka.
Momentum kedua adalah lahirnya Piagam Jakarta pada 22 Juni 1945 melalui Panitia Sembilan. Saat itu terjadi dialog dan musyawarah terkait rumusan sila pertama yang akhirnya disepakati menjadi “Ketuhanan Yang Maha Esa” demi menjaga persatuan bangsa yang majemuk.
Sedangkan momentum ketiga terjadi pada 18 Agustus 1945 saat Sidang PPKI yang mengesahkan Undang-Undang Dasar 1945 dan menetapkan Pancasila sebagai dasar negara Republik Indonesia.
“Pancasila sebagai gagasan pertama kali disampaikan Bung Karno pada 1 Juni 1945. Karena itu tanggal tersebut ditetapkan sebagai Hari Lahir Pancasila. Ini menjadi momentum untuk mengingat kembali pentingnya visi, ide, gagasan, dan konsepsi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” ujar Uha, dalam rilisnya, Senin (1/6/2026).
Ia menjelaskan, peringatan Hari Lahir Pancasila secara resmi ditetapkan melalui Keputusan Presiden Nomor 24 Tahun 2016 yang menetapkan 1 Juni sebagai Hari Lahir Pancasila sesuai konteks sejarah pidato Soekarno dalam Sidang BPUPKI.
Menurutnya, hingga saat ini Pancasila tetap menjadi pandangan hidup bangsa Indonesia sekaligus norma dasar negara yang fundamental. Soekarno sendiri menyebut Pancasila sebagai weltanschauung atau pandangan hidup yang menjadi fondasi berpikir bangsa Indonesia.
“Dengan ideologi Pancasila, Indonesia tetap kokoh dan mampu menjaga keindonesiaan di tengah berbagai tantangan zaman,” katanya.
Uha juga mengingatkan, Soekarno tidak hanya menawarkan Pancasila untuk Indonesia, tetapi juga kepada dunia internasional. Salah satunya melalui pidato bersejarah berjudul To Build The World A New yang disampaikan dalam Sidang Umum PBB pada 30 September 1960.
Dalam pidato tersebut, Soekarno menegaskan bahwa Pancasila bukanlah turunan dari Manifesto Komunis maupun Deklarasi Kemerdekaan Amerika Serikat, melainkan sebuah konsepsi yang lahir dari nilai-nilai dan pengalaman bangsa Indonesia.
Lebih lanjut, Uha menilai tantangan bangsa saat ini adalah semakin menguatnya pragmatisme politik yang sering kali mengabaikan kepentingan rakyat dan arah ideologis bangsa.
“Dalam membangun bangsa, kita jangan miskin konsepsi. Politik tidak boleh hanya berorientasi pada kekuasaan semata. Kepentingan rakyat harus menjadi prioritas utama dalam setiap kebijakan,” tegasnya.
Ia juga mengutip pandangan Wakil Presiden pertama Republik Indonesia, Mohammad Hatta, yang menegaskan bahwa pemerintah harus berpijak pada Pancasila dan melaksanakan amanat UUD 1945 secara konsisten, khususnya pasal-pasal yang berkaitan dengan kesejahteraan rakyat, pendidikan, dan keadilan sosial.
Menurut Uha, konsepsi dan ideologi sangat penting untuk mencegah berbagai bentuk rekayasa dalam kehidupan bernegara, baik dalam sistem demokrasi maupun penegakan hukum.
“Indonesia memerlukan pemimpin yang ideologis karena dapat memberikan arah dan tujuan yang jelas dalam kepemimpinan. Bung Karno telah memberikan teladan bagaimana membangun bangsa dengan konsepsi yang matang dan visi yang kuat,” pungkasnya.
SIWINDU.COM Berita Kuningan Terbaru Hari Ini