Penyuluh Diminta “Turun Gunung”, Kunci Jaga Lonjakan Surplus Beras Kuningan

April 10, 2026 12 Dilihat

Siwindu.com – Pemerintah Kabupaten Kuningan menegaskan pentingnya kehadiran nyata penyuluh pertanian di lapangan sebagai kunci menjaga tren positif surplus beras yang terus meningkat. Penyuluh diminta tidak lagi hanya berperan administratif, tetapi benar-benar “turun gunung” mendampingi petani secara langsung.

Penegasan tersebut disampaikan Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Diskatan)Kabupaten Kuningan, Dr Wahyu Hidayah MSi, dalam kegiatan Pembinaan dan Silaturahmi Penyuluh Pertanian, Kamis (9/4/2026).

“Tidak boleh ada lagi penyuluh yang tidak terlihat oleh petani. Mereka harus hadir, aktif, dan menjadi solusi di lapangan,” tegasnya.

Dalam dua tahun terakhir, capaian sektor pertanian Kuningan menunjukkan tren yang signifikan. Surplus beras meningkat dari sekitar 93 ribu ton pada 2024 menjadi lebih dari 120 ribu ton pada 2025. Angka ini menempatkan Kuningan sebagai salah satu daerah penopang pangan strategis di Jawa Barat.

Data Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian mencatat, produksi padi sepanjang 2025 mencapai 396.873 ton Gabah Kering Giling (GKG), atau setara 254.435 ton beras. Sementara kebutuhan konsumsi masyarakat berada di angka 134.191 ton per tahun, sehingga menghasilkan surplus sebesar 120.244 ton.

Tak hanya itu, kinerja pertanian Kuningan juga tergolong progresif di awal 2026. Hingga akhir Maret, sebanyak 78 persen atau sekitar 20.310 hektare dari total luas baku sawah 26.016 hektare telah dipanen. Capaian ini lebih cepat dibanding sejumlah daerah lain yang umumnya baru memasuki masa panen pada April.

“Artinya, Kuningan tidak hanya surplus, tetapi juga lebih cepat dalam mengawal musim tanam dan panen. Kita sudah berkontribusi pada pasokan beras nasional sejak awal tahun,” ujarnya.

Meski demikian, Wahyu mengingatkan bahwa tantangan ke depan semakin kompleks. Mulai dari perubahan iklim, dinamika pasar global, hingga potensi gagal panen menjadi faktor yang harus diantisipasi secara serius.

Baca Juga:  Tak Perlu Lagi Jalan di Belakang Traktor, Teknologi AI Siap Masuk Sawah Kuningan

Dalam konteks tersebut, ia menegaskan bahwa peran penyuluh harus bertransformasi. Tidak cukup hanya sebagai pendamping teknis, tetapi juga sebagai agen perubahan yang mampu mengedukasi, memengaruhi, dan menggerakkan petani.

“Penyuluh harus naik kelas menjadi penggerak. Harus mampu membangun kepercayaan dan memastikan petani siap menghadapi perubahan,” katanya.

Ia juga menyoroti masih adanya keluhan dari petani terkait minimnya kehadiran penyuluh di lapangan. Hal itu menjadi bahan evaluasi penting bagi pemerintah daerah.

“Kita harus jujur, masih ada petani yang merasa belum pernah didampingi penyuluh. Ini peringatan keras dan tidak boleh terjadi lagi,” tegasnya.

Sebagai langkah konkret, pihaknya mendorong perubahan pola kerja penyuluh agar lebih proaktif, solutif, serta berbasis kebutuhan petani. Selain itu, penyuluh juga dituntut adaptif terhadap perkembangan teknologi pertanian dan dinamika pasar.

Wahyu menegaskan, ada tiga kekuatan utama yang harus dimiliki penyuluh ke depan, yakni penguasaan pengetahuan, kemampuan membangun kepercayaan petani, serta integritas sebagai teladan di lapangan.

Menurutnya, Kabupaten Kuningan memiliki modal kuat untuk terus berkontribusi dalam mendukung swasembada pangan nasional. Namun, kunci keberhasilan tetap terletak pada kualitas dan kehadiran penyuluh di tengah petani.

“Kuningan punya modal besar. Surplus meningkat, panen lebih cepat, produksi terjaga. Sekarang kuncinya satu, penyuluh harus benar-benar hadir dan bekerja untuk petani,” ujarnya.

Ia memastikan, transformasi peran penyuluh akan menjadi agenda prioritas guna menjaga konsistensi kontribusi Kuningan dalam menopang ketahanan pangan, baik di tingkat daerah maupun nasional.

“Ini bukan sekadar capaian daerah, tapi bagian dari tanggung jawab kita dalam menjaga pangan Indonesia,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *