Kuningan Bangun Fondasi Kemandirian Bawang Putih, Dimulai dari Demplot 0,2 Hektare

Siwindu.com – Kabupaten Kuningan mulai membangun fondasi pengembangan bawang putih sebagai salah satu langkah memperkuat ketahanan dan kemandirian pangan daerah.

Pengembangan tersebut tidak langsung dilakukan dalam skala besar. Pemerintah Kabupaten Kuningan memilih memulai dari demplot seluas 0,2 hektare untuk menguji kesesuaian agroklimat, teknologi budidaya hingga kelayakan ekonomi sebelum dikembangkan ke areal yang lebih luas.

Langkah awal itu dilakukan di kawasan riset Rumah Tani Nusantara, Desa Karangsari, Kecamatan Darma. Kawasan tersebut menjadi salah satu titik yang disiapkan dalam rencana pengembangan bawang putih dengan total usulan calon petani dan calon lokasi (CPCL) sekitar 17 hektare.

Calon kawasan pengembangan tersebut mendapat perhatian langsung Kapolda Jawa Barat Irjen Pol Dr P Rismanto SIK MH, saat melakukan peninjauan ke Desa Karangsari, Selasa (11/8/2026).

Dalam kunjungan tersebut, Kapolda Jabar didampingi Kapolres Kuningan AKBP Bellen Anggara Pratama SIK MH, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Kuningan Dr Wahyu Hidayah MSi, anggota DPR RI H Rokhmat Ardiyan MM, serta CEO Rumah Tani Nusantara Bahtiar ST, selaku pemilik kawasan riset.

Peninjauan dilakukan untuk melihat langsung kesiapan calon areal tanam sekaligus memastikan kondisi agroklimat kawasan sebelum pengembangan bawang putih dilakukan pada skala yang lebih luas.

Pengembangan komoditas tersebut dinilai strategis mengingat kebutuhan bawang putih di dalam negeri masih tinggi. Karena itu, peningkatan produksi dari daerah menjadi salah satu bagian penting dalam membangun ketahanan pangan sekaligus mengurangi ketergantungan pasokan dari luar.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Kuningan Dr Wahyu Hidayah mengatakan, pemerintah daerah sengaja menerapkan pola pengembangan secara bertahap.

Menurutnya, pemerintah tidak ingin sekadar mengejar luasan lahan, tetapi terlebih dahulu memastikan model budidaya bawang putih benar-benar sesuai dengan kondisi Kuningan.

“Total usulan CPCL kita sekitar 17 hektare. Tetapi pengembangannya bertahap. Kita mulai dari demplot 0,2 hektare di kawasan riset Rumah Tani Nusantara untuk menguji kesesuaian agroklimat dan model budidayanya,” kata Wahyu.

Baca Juga:  Gerakan Tanam Bersama di Kuningan Dipercepat, Kementan Genjot Produksi Menuju Swasembada Pangan

Demplot tersebut direncanakan menjadi bagian dari Launching Gerakan Tanam Bawang Putih pada 19 Agustus 2026.

Wahyu menjelaskan, demplot akan menjadi ruang pengujian sekaligus pembelajaran untuk mengukur berbagai aspek budidaya. Mulai dari pertumbuhan tanaman, teknologi yang digunakan, kebutuhan sarana produksi, produktivitas, biaya usaha tani hingga prospek keuntungan yang dapat diterima petani.

“Kita tidak ingin sekadar menanam. Kita ingin memastikan bagaimana pertumbuhan tanaman, teknologi yang paling sesuai, produktivitasnya, kebutuhan biaya produksinya, sampai apakah usaha ini memberikan keuntungan bagi petani. Dari situ kita evaluasi untuk menentukan pengembangan berikutnya,” ujarnya.

Dari total usulan sekitar 17 hektare, kurang lebih 7 hektare direncanakan berada di kawasan riset Rumah Tani Nusantara. Selain demplot awal 0,2 hektare, kawasan tersebut akan disiapkan untuk pengembangan secara bertahap.

Sementara sekitar 10 hektare lainnya direncanakan tersebar di kawasan Pasir Batang Desa Karangsari Kecamatan Darma, Desa Puncak, serta Desa Gunungkeling Kecamatan Cigugur.

Menurut Wahyu, kawasan riset Rumah Tani Nusantara memiliki posisi penting dalam tahap awal pengembangan karena dapat menjadi lokasi untuk menguji model budidaya sebelum diterapkan pada areal yang lebih luas.

Keterlibatan Bahtiar sebagai pelaku usaha sekaligus pemilik kawasan riset juga membuka peluang kolaborasi antara pemerintah dan dunia usaha, khususnya dalam pengembangan riset lapangan, teknologi pertanian dan model pengembangan kawasan.

Dukungan lintas sektor juga terlihat dari kehadiran anggota DPR RI H. Rokhmat Ardiyan dalam peninjauan tersebut.

Wahyu menilai dukungan legislatif dibutuhkan agar pengembangan bawang putih tidak berhenti pada kegiatan tanam semata. Penguatan kebijakan, sarana produksi, peningkatan kapasitas petani hingga akses pasar menjadi bagian yang tidak kalah penting.

Dengan demikian, pengembangan bawang putih di Kuningan diarahkan untuk membangun ekosistem dari hulu hingga hilir dengan melibatkan pemerintah, petani, dunia usaha, legislatif dan unsur terkait lainnya.

Baca Juga:  Libur Panjang Bukan Halangan Kementan dan Kuningan Tetap Kerja untuk Ketahanan Pangan

Wahyu menegaskan, berbicara mengenai kemandirian bawang putih tidak cukup hanya dengan memperluas lahan.

“Kalau kita ingin berbicara tentang kemandirian bawang putih, fondasinya harus kuat. Benih harus tersedia, petani harus menguasai teknologi budidaya, produktivitas harus baik, dan hasil produksi harus memiliki kepastian pasar,” tegasnya.

Karena itu, pengembangan ke depan akan diarahkan tidak hanya pada produksi, tetapi juga mencakup perbenihan, budidaya, pendampingan petani, penyediaan sarana produksi, penanganan pascapanen hingga pemasaran.

“Yang kita bangun bukan hanya tanamannya, tetapi ekosistemnya. Kalau modelnya terbukti sesuai secara teknis dan layak secara ekonomi, baru kita kembangkan secara bertahap ke kawasan yang lebih luas,” ujar Wahyu.

Bagi Kuningan, langkah tersebut sekaligus menjadi upaya mengoptimalkan potensi pertanian daerah dan membuka peluang peningkatan nilai ekonomi bagi petani.

Wahyu menekankan, angka 17 hektare yang saat ini masuk dalam usulan CPCL bukan berarti seluruh lahan harus langsung ditanami. Luasan tersebut merupakan arah pengembangan yang masih akan ditentukan berdasarkan hasil pengujian dan evaluasi lapangan.

“Kita tidak sedang mengejar angka 17 hektare. Kita sedang membangun model bawang putih yang benar-benar bisa berhasil. Kita mulai dari 0,2 hektare, kita uji, kita ukur, kita evaluasi. Kalau hasilnya baik, kita kembangkan secara bertahap,” katanya.

Menurutnya, pendekatan tersebut penting agar pengembangan bawang putih di Kuningan tidak hanya terlihat besar secara luasan, tetapi benar-benar memiliki dasar teknis dan ekonomi yang kuat.

Dari demplot 0,2 hektare di kawasan riset Rumah Tani Nusantara, Kuningan kini mulai menguji apakah bawang putih dapat dikembangkan secara produktif dan menguntungkan bagi petani.

Jika hasil pengujian menunjukkan model budidaya yang sesuai dan memiliki prospek ekonomi, pengembangan akan dilanjutkan secara bertahap menuju kawasan yang lebih luas.

“Kalau modelnya tepat, produktif dan menguntungkan bagi petani, tentu akan lebih mudah untuk kita kembangkan ke kawasan yang lebih luas,” pungkas Wahyu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *