Prediksi AI Bikin Syok, Ilmuwan Google Berhenti Nabung untuk Pensiun

Yakin Kiamat AI Dekat, Ilmuwan Google Berhenti Nabung Pensiun

Ketakutan akan kepunahan massal akibat kemajuan pesat teknologi bukan lagi sekadar naskah film fiksi ilmiah Hollywood. Bagi sebagian pakar di pusat lembah silikon, ancaman tersebut sudah menjadi realitas yang cukup genting hingga mengubah keputusan finansial seumur hidup mereka.

Nate Soares, seorang ahli pembelajaran mesin yang pernah merancang perangkat lunak untuk Google dan Microsoft, telah mengambil langkah radikal. Selama satu dekade terakhir, ia secara sadar berhenti menyisihkan gajinya untuk dana pensiun hari tua.

Dekade Terakhir Umat Manusia?

Keputusan ekstrem ini bukan tanpa perhitungan. Sebagai sosok yang memahami jeroan teknologi, Soares memiliki proyeksi suram terkait perlombaan kecerdasan buatan (AI) saat ini. Seperti yang diberitakan oleh New York Post, Soares memperkirakan probabilitas AI akan memusnahkan umat manusia berada di atas angka 50 persen dalam sepuluh tahun ke depan.

Potret Nate Soares, mantan ilmuwan AI Google
Nate Soares, pakar pembelajaran mesin yang kini menjabat Presiden Machine Intelligence Research Institute, meyakini umat manusia mungkin tidak punya waktu hingga sedekade lagi. (Sumber: New York Post)

“Saya rasa saat ini sepertinya kita tidak punya waktu satu dekade di jam tangan kita. Probabilitasnya lebih dari 50 persen bahwa kita tidak memiliki satu dekade lagi pada titik ini,” ungkap Soares.

Pola pikir ini yang mendorongnya untuk berhenti berinvestasi pada masa depan jangka panjang. Meskipun ia masih memiliki akun tabungan pensiun 401(k) dari masa kejayaannya bekerja di Google, Soares menolak untuk menyetor satu sen pun ke dalamnya sejak sepuluh tahun lalu.

Menganalisis Skakmat dari Mesin Superpintar

Soares saat ini memimpin *Machine Intelligence Research Institute* (MIRI), sebuah organisasi nirlaba di Berkeley yang secara aktif mengkampanyekan apa yang sering dicap sebagai “AI doomerism” (paham kiamat AI). Kelompok ini secara lantang menentang narasi optimis perusahaan teknologi raksasa, memperingatkan bahwa penciptaan AI superpintar yang melampaui kendali manusia akan berujung pada kepunahan.

Baca Juga:  Surface Laptop Ultra Bersaing dengan MacBook, Ditenagai RTX Nvidia

Terkait bagaimana skenario kiamat itu terjadi, Soares enggan terjebak dalam spekulasi fiksi. Sebagaimana diwartakan oleh Moneywise, ia menganalogikan ancaman ini layaknya bermain catur melawan Grandmaster asal Norwegia, Magnus Carlsen. Tidak masalah apakah Carlsen akan melakukan skakmat menggunakan pion atau ratu; yang pasti, kekalahan adalah hasil akhirnya.

“Pertanyaan sebenarnya bukanlah bagaimana ia membunuh kita, melainkan bagaimana AI tersebut bisa mencapai kemandirian absolut?” tegas Soares. Ia menambahkan bahwa ancaman dari AI yang melenceng (*rogue AI*) seharusnya ditangani oleh negara sejajar dengan, atau bahkan lebih berbahaya dari, ancaman senjata nuklir.

Bukan Kiamat Lapangan Pekerjaan

Di saat banyak ahli ekonomi meributkan disrupsi AI yang akan memicu pengangguran massal, Soares melihat persoalan dari kacamata yang jauh lebih gelap.

“Saya bukan tipe orang yang percaya ‘kiamat lapangan kerja karena AI’. Saya adalah tipe orang ‘AI akan membunuh semua manusia’. Dalam skenario saya, tingkat pekerjaan akan penuh seratus persen—tepat pada detik terakhir sebelum kita semua musnah,” ujarnya dengan nada humor gelap.

Ilustrasi manusia dan layar kode AI
Meskipun pesimis, pakar AI mendesak pembatasan skala pengembangan kecerdasan buatan demi mencegah malapetaka. (Sumber: New York Post)

Meski dihantui prediksi suram, Soares belum sepenuhnya menyerah. Ia masih berjuang mengadvokasi regulasi ketat, menekankan bahwa pengembangan AI untuk tugas spesifik—seperti mencari obat kanker—sangat bermanfaat dan aman. Namun, ambisi rakus korporasi untuk menciptakan kecerdasan buatan umum (AGI) yang meniru dan melampaui kecerdasan fundamental manusia adalah garis merah yang tidak boleh dilewati.

Meningkatnya laju inovasi tanpa kontrol ini juga turut disinggung oleh Business Insider, yang menggarisbawahi bahwa ketakutan terhadap keamanan AI kini tidak lagi sekadar monopoli para aktivis, melainkan telah meresap ke dalam keputusan hidup para perancangnya sendiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *