Nama Eyang Kiai Hasan Maolani Resmi Diabadikan sebagai Jalan Utama di Kuningan, Dzurriyat Serukan Dukungan Jadi Pahlawan Nasional

Nama Eyang Kiai Hasan Maolani Resmi Diabadikan sebagai Jalan Utama di Kuningan, Dzurriyat Serukan Dukungan Jadi Pahlawan Nasional
Profesor KH Didin Nurul Rosyidin, memberikan sambutan atas nama Dzurriat Eyang Kiai Hasan Maolani, yang namanya diabadikan di jalan baru Lingkar timur utara. (Foto: ist)
Mei 1, 2025 69 Dilihat

Siwindu.com – Pemerintah Kabupaten Kuningan secara resmi mengabadikan nama Eyang Kiai Hasan Maolani sebagai nama Jalan Baru Lingkar Timur Utara Kuningan. Peresmian yang berlangsung pada Selasa (30/4/2025) lalu ini dinilai sarat makna, karena bertepatan dengan haul ke-151 wafatnya ulama besar tersebut menurut penanggalan Masehi.

Salah satu Dzurriyat Eyang Kiai Hasan Maolani, Prof Dr KH Didin Nurul Rosyidin PhD, hadir dan menyampaikan apresiasi mendalam atas keputusan Bupati Kuningan bersama jajaran, yang dianggap sebagai bentuk nyata penghormatan terhadap tokoh besar asal Kuningan.

“Ketetapan ini membuktikan bahwa masyarakat Kuningan adalah masyarakat besar, yang tidak hanya menjadikan sejarah sebagai rujukan dan inspirasi, tapi juga membangun budaya ilmu pengetahuan berbasis memori kolektif,” ujar Prof Didin dalam sambutannya.

Eyang Kiai Hasan Maolani atau yang juga dikenal sebagai Kiai Lengkong, lanjut Prof Didin, merupakan sosok ulama pejuang yang berpengaruh pada masanya. Pengaruhnya yang kuat membuatnya dibuang ke berbagai tempat oleh penjajah, hingga akhirnya wafat di Manado. Ia bahkan disatukan dengan tokoh besar lainnya, Kiai Mojo, yang dikenal sebagai salah satu pemimpin Perang Diponegoro.

“Beliau tidak lagi sempat bertemu dengan istri, anak, dan cucunya sejak ditangkap dan dibuang. Hanya surat-surat berisi petuah dan ajaran yang tersisa, tapi itu jadi bukti betapa cintanya beliau pada keluarga dan umat,” tutur Prof Didin.

Ketokohan Eyang Hasan Maolani bahkan menarik perhatian ilmuwan Belanda, GWJ Drewes, yang menulis disertasi khusus berjudul Drie Javansche Goeroe’s di Universitas Leiden, Belanda, pada tahun 1925. Prof Didin menyebut, hal itu menjadi indikator bahwa Eyang Hasan Maolani adalah figur besar yang diakui di level internasional.

Sebelumnya, Eyang Hasan Maolani pernah diajukan sebagai pahlawan nasional, namun belum berhasil. Salah satu evaluasi utama adalah kurangnya pengakuan lokal. Kini, dengan diresmikannya jalan utama atas nama Eyang Hasan Maolani, Prof Didin menyebut momentum ini sebagai “modal kuat” untuk kembali memperjuangkan gelar pahlawan nasional bagi sang buyut.

Baca Juga:  Ketua Bapemperda DPRD Kuningan Usulkan Jalan Baru Awirarangan Dinamai Jalan H Aang Hamid Suganda

“Kami bermimpi Kuningan punya pahlawan nasional berlatarbelakang ulama, sebagaimana Imam Bonjol, KH Hasyim Asy’ari, dan KH Abdul Halim dari Majalengka. Ini sejalan dengan visi-misi Kuningan yang agamis,” tambahnya.

Di akhir sambutannya, Prof Didin mengutip sejarawan Stephen Ambrose: “Masa lalu adalah sumber pengetahuan dan masa depan adalah sumber harapan.” Ia berharap, peresmian ini tidak hanya menjadi bentuk cinta akan masa lalu, tetapi juga tanda optimisme akan masa depan Kuningan.

“Dengan bismillahirrahmanirrahim, kami persembahkan nama Eyang Kiai Hasan Maolani sebagai nama jalan utama sekaligus kebanggaan masyarakat Kuningan. Kuningan melesaaaat,” serunya penuh semangat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *