Siwindu.com – Saat pagi tiba di Dusun Maja, Desa Dukuh Badag, Kecamatan Cibingbin, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, suara kokok ayam bersahut-sahutan dengan denting lonceng sapi Pasundan yang digiring pemiliknya ke padang rumput.
Kabut tipis masih bergelayut di antara pepohonan, sementara aroma kayu bakar dari dapur warga menyeruak di udara. Suasana alami itu seolah mengajak siapa pun yang datang untuk menengok kembali jejak kearifan lokal yang masih terjaga di sudut timur Kabupaten Kuningan ini.
Di balik kesederhanaan itu, tersimpan tekad besar warga setempat, ingin menghidupkan kembali Kampung Adat Majalaya (Blok Maja, red) sebagai wujud pelestarian adat dan budaya leluhur. Bagi mereka, membentuk kampung adat bukan sekadar romantisme masa lalu, melainkan cara memperkuat jati diri sekaligus mewariskan kearifan lokal kepada generasi mendatang.
“Di Blok Maja ini ada ciri khas yang tidak dimiliki kampung lain. Rumah warga berjumlah 40 unit, semuanya menghadap utara-selatan, bukan sembarangan arah. Itu adalah ketentuan adat yang diwariskan leluhur, dan sampai sekarang masih dipertahankan,” ungkap Kepala Desa Dukuh Badag, Suyoto Adi Ardiwinata, saat berbincang dengan sejumlah jurnalis di lokasi, Minggu (24/8/2025).
Selain tata ruang rumah, kata Suyoto, masyarakat juga masih melestarikan tradisi beternak Sapi Pasundan, sapi khas Kuningan, Jawa Barat. Hewan ternak itu bukan sekadar sumber ekonomi, tetapi juga simbol ikatan warga dengan alam dan budaya. Bahkan, beberapa tahun lalu, Gubernur Jawa Barat yang kala itu selaku Budayawan, Dedi Mulyadi, sempat berkunjung dan memberikan apresiasi khusus atas konsistensi warga menjaga warisan leluhur.
Namun, mewujudkan Kampung Adat Majalaya bukan perkara mudah. Sebagian wilayah Blok Maja masuk dalam kawasan milik Perhutani, sehingga harus ada musyawarah dan kerja sama agar fungsi hutan tetap terjaga tanpa mengurangi ruang hidup warga.
Tokoh pemuda setempat, Wihendar atau yang akrab disapa Wihe, menegaskan pentingnya dukungan pemerintah daerah dalam mengembalikan identitas kampung.
“Kami ingin Blok Maja ini benar-benar menjadi kampung adat. Bukan hanya soal bangunan, tapi tentang nilai kebersamaan, kemandirian, dan ketahanan budaya. Warga di sini sudah terbukti kompak, meskipun arus budaya luar semakin deras,” ujarnya.
Nuansa adat di Blok Maja, sambung Wihe, memang masih terasa kuat. Gotong royong warga menjadi nafas kehidupan sehari-hari, anak-anak tumbuh dengan kesadaran menjaga lingkungan, sementara para orang tua tetap teguh memegang adat istiadat.
“Kami ingin anak cucu nanti masih bisa merasakan hidup di kampung yang menjaga adat, bukan hanya melihat di buku sejarah,” tuturnya.
Harapan membentuk Kampung Adat Majalaya, lanjut Wihe, seakan menjadi doa yang terus dipanjatkan warga Blok Maja. Di ujung timur Kabupaten Kuningan yang berbatasan langsung dengan Jawa Tengah ini, mereka ingin kampungnya bukan sekadar titik di peta, melainkan benteng adat yang menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan leluhur.
“Seperti kabut pagi yang menyelimuti Blok Maja, tradisi di kampung ini mungkin tampak sederhana, namun justru di sanilah tersimpan kekuatan besar, ada kearifan lokal yang ingin terus hidup dari masa ke masa,” sebut Wihe.
Dalam waktu dekat, masih kata Wihe, di Kampung Blok Maja yang bakal dijadikan Kampung Adat tersebut, akan dilaksanakan shooting film layar lebar dengan menghadirkan pihak Productions House (PH) ternama dari Jakarta. Hal itu menjadi kebanggaan tersendiri bagi warga Kampung Maja karena mendapat perhatian dan sorotan dari pihak swasta.
“Insya Allah nanti akan ada shooting film untuk layar lebar di Kampung ini. Mudah-mudahan ke depan pemerintah juga bisa melirik dan ikut mendukung penuh terhadap rencana kami sebagai warga di sini untuk mengembalikan budaya dengan membentuk Kampung Adat Majalaya,” pungkasnya.
SIWINDU.COM Berita Kuningan Terbaru Hari Ini