Siwindu.com – Di bawah langit cerah Desa Babakan Mulya, Kecamatan Jalaksana, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, ribuan warga tumpah ruah di kawasan wisata Balong Dalem, Kamis (9/10/2025).
Suara gamelan berpadu dengan lantunan doa adat, menandai dimulainya prosesi Kawin Cai, sebuah tradisi penyatuan dua sumber mata air yang diwariskan turun-temurun oleh masyarakat setempat.
Tahun ini, pelaksanaan Kawin Cai terasa lebih semarak. Hiasan janur, taburan bunga, dan gerak tari tradisional membuat suasana semakin hidup. Warga, wisatawan, hingga pejabat daerah larut dalam kemeriahan yang sarat makna spiritual dan budaya.
Direktur Utama Perusahaan Umum Daerah Perumda) Aneka Usaha Kuningan, Hj Heni Susilawati SSos MM, mengaku terkesan dengan penyelenggaraan tahun ini. Menurutnya, tradisi yang digelar di kawasan wisata alam milik PDAU tersebut semakin berkembang, baik dari sisi konsep maupun partisipasi masyarakat.
“Tahun ini tradisi Kawin Cai di Desa Babakan Mulya lebih meriah. Animo masyarakat luar biasa, konsep acaranya juga keren banget, selalu ada perbaikan dari tahun ke tahun,” ujar Heni di lokasi kegiatan.
Tak hanya warga, sejumlah tokoh penting pun hadir memeriahkan acara. Di antaranya anggota DPR RI Fraksi Partai Gerindra H Rokhmat Ardiyan MM, anggota DPRD Jawa Barat Fraksi Golkar H Dudi Pamudji SE MSi, dan Wakil Bupati Kuningan Hj Tuti Andriyani SH MKn, turut hadir dan memberikan sambutan serta apresiasi terhadap pelestarian tradisi lokal tersebut.
Bagi Perumda Aneka Usaha (dulu PDAU) Kuningan, tradisi Kawin Cai bukan hanya agenda budaya, tetapi juga bentuk nyata kepedulian terhadap kelestarian alam. Sebagai pemegang izin Pengusahaan Sarana Jasa Lingkungan Wisata Alam (PB-PSWA) di kawasan Balong Dalem hingga tahun 2057, perusahaan daerah ini memikul tanggung jawab menjaga harmoni antara budaya dan lingkungan.
“Kami berkomitmen menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan sekitar Balong Dalem. Tradisi Kawin Cai ini bukan hanya seremoni budaya, tapi juga wujud nyata pelestarian sumber daya alam dan penghormatan terhadap tradisi turun-temurun masyarakat Babakan Mulya,” jelas Heni.
Bagi masyarakat Babakan Mulya, sambung Heni, Kawin Cai merupakan simbol penyatuan dua sumber air sebagai ungkapan rasa syukur dan doa agar air tetap melimpah. Prosesi ini juga merepresentasikan hubungan harmonis antara manusia dan alam, yang dimaknai tentang kesejahteraan lahir dari rasa hormat terhadap sumber kehidupan.
“Di setiap percikan air yang mengalir dari bambu, tersimpan harapan agar Kuningan tetap sejuk, subur, dan makmur. Seperti air Balong Dalem yang tak pernah berhenti mengalir, semangat masyarakat menjaga tradisi ini pun tak pernah surut,” pungkas Heni.
SIWINDU.COM Berita Kuningan Terbaru Hari Ini