Mang Ewo Kritik Klaim Pertumbuhan Ekonomi Kuningan: “Grafiknya Naik, Tapi Perut Rakyat Turun”

Mang Ewo Kritik Klaim Pertumbuhan Ekonomi Kuningan: “Grafiknya Naik, Tapi Perut Rakyat Turun”
Pengamat politik Mang Ewo, mengkritik keras data BPS terkait pertumbuhan ekonomi Kuningan jadi tertinggi di Pulau Jawa. (Foto: Mumuh Muhyiddin/Siwindu.com)
Oktober 30, 2025 39 Dilihat

Siwindu.com – Pernyataan Kabupaten Kuningan menjadi salah satu daerah dengan pertumbuhan ekonomi tercepat di Pulau Jawa menuai tanggapan kritis. Pengamat politik Kuningan, Sujarwo alias Mang Ewo, menilai klaim tersebut perlu ditinjau ulang karena tidak sepenuhnya sejalan dengan realitas sosial ekonomi masyarakat di lapangan.

Dalam keterangannya kepada Siwindu.com, Kamis (30/10/2025), Mang Ewo menyoroti capaian pertumbuhan ekonomi dua digit sebagaimana dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) belum tentu mencerminkan peningkatan kesejahteraan masyarakat secara nyata.

“Grafiknya memang naik, tapi perut rakyat malah turun. Jangan sampai kita terjebak dalam euforia angka tanpa melihat kondisi riil masyarakat di pasar dan kampung-kampung,” tegas Mang Ewo.

Mang Ewo mencontohkan, kenaikan harga kebutuhan pokok yang kini makin membebani warga berpenghasilan rendah. Salah satunya terkait harga telur ayam yang tembus di kisaran Rp30 ribu per kilogram. Kondisi ini membuat banyak masyarakat kelas menengah ke bawah tidak mampu membeli satu kilogram penuh, dan terpaksa hanya membeli setengah kilogram untuk kebutuhan sehari-hari.

“Coba turun ke pasar pagi-pagi. Banyak ibu-ibu sekarang beli telur setengah kilo, beras pun dikurangi takarannya. Ini fakta yang tidak bisa disembunyikan oleh grafik pertumbuhan ekonomi,” sindirnya tajam.

Menurut Mang Ewo, pertumbuhan ekonomi tinggi tidak otomatis berarti kesejahteraan meningkat. Sebab, yang tumbuh belum tentu adalah sektor yang menyentuh masyarakat bawah. Ia menduga, angka pertumbuhan Kuningan yang melonjak justru banyak disumbang dari investasi dan proyek-proyek konstruksi, bukan dari aktivitas ekonomi rakyat kecil.

“Kalau yang tumbuh cuma investasi besar, sementara pedagang kecil dan buruh harian masih megap-megap, ya pertumbuhan itu semu. Ekonomi sehat itu ketika pasar ramai pembeli, bukan ramai spanduk proyek,” ucapnya.

Baca Juga:  LSM Frontal Apresiasi Bupati Dian Terapkan Manajemen Talenta ASN

Mang Ewo meminta Pemerintah Kabupaten Kuningan tidak terjebak dalam euforia statistik, melainkan fokus pada kebijakan yang benar-benar menyentuh kebutuhan dasar masyarakat. Ia menilai, saat ini masyarakat masih bergulat dengan kenaikan harga pangan, biaya sekolah, hingga lapangan kerja yang terbatas.

“Pemerintah harus peka. Kalau rakyat masih susah beli telur, berarti ekonomi belum pulih. Jadi jangan terlalu cepat bilang Kuningan hebat, sementara dapur rakyat belum ngebul,” kritiknya.

Di akhir pernyataannya, Mang Ewo berharap pemerintah daerah lebih berpihak pada sektor riil dan rakyat kecil, bukan sekadar mengejar pertumbuhan dalam angka.

“Saya tidak anti-data. Tapi data harus dikonfirmasi dengan rasa. Pertumbuhan ekonomi sejati itu bukan di laporan BPS, tapi di senyum rakyat saat belanja di pasar,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *