Siwindu.com – Terpilihnya Daniel Mutaqien secara aklamasi sebagai Ketua DPD Partai Golkar Jawa Barat dalam Musda XI, dinilai bukan sekadar pergantian elite partai atau kemenangan prosedural semata. Di balik proses yang berjalan mulus itu, tersimpan pesan kuat bahwa Golkar Jabar lebih memilih persatuan dibanding pertarungan internal yang berisiko memecah kekuatan.
Hal tersebut disampaikan Toto Izul Fatah, Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA, dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (11/4/2026). Ia menilai, dalam politik, aklamasi hampir tidak pernah terjadi secara sederhana. Biasanya, aklamasi lahir dari dua kemungkinan, adanya figur yang terlalu kuat untuk dilawan atau kesadaran bersama bahwa kontestasi terbuka justru akan menimbulkan luka politik yang lebih besar.
Dalam konteks Daniel Mutaqien, menurutnya, kedua faktor itu bertemu. Selain memiliki rekam jejak dan pengalaman, Daniel juga dinilai memiliki militansi serta penerimaan lintas kubu yang membuatnya menjadi titik temu paling rasional di tengah tarik-menarik kepentingan internal.
“Ini bukan sekadar aklamasi. Ini pilihan sadar untuk menghindari pertarungan yang bisa melemahkan partai itu sendiri,” tulis Toto.
Ia menegaskan, Jawa Barat merupakan wilayah politik yang kompleks dan menjadi salah satu barometer nasional. Dalam situasi seperti itu, konflik internal justru dapat berdampak langsung terhadap kekuatan elektoral partai di luar.
Karena itu, keputusan aklamasi dinilai sebagai langkah strategis. Golkar Jabar disebut tidak ingin mengulang pola lama, yakni menang di dalam, tetapi kehilangan kekuatan di luar akibat perpecahan internal.
Daniel sendiri dinilai bukan figur karbitan. Meski merupakan putra Yance (mantan Bupati Indramayu), ia tidak hanya bertumpu pada faktor genealogi politik. Ia disebut tumbuh melalui proses kaderisasi dan memahami kultur partai dari dalam.
Di tengah krisis kaderisasi yang dialami banyak partai politik, kehadiran figur muda yang telah matang secara pengalaman menjadi aset penting. Daniel juga dinilai membawa kombinasi yang jarang. Muda, namun berpengalaman, serta memahami ritme politik praktis dan kerja organisasi.
“Golkar tidak hanya butuh figur yang tampil di panggung, tetapi pemimpin yang paham mesin partai dan mampu mengubah jaringan menjadi kekuatan elektoral,” ungkap Toto.
Namun demikian, poin paling krusial dari terpilihnya Daniel terletak pada posisinya sebagai figur jalan tengah. Di tengah banyaknya kepentingan internal, ia hadir bukan sebagai representasi satu kubu, melainkan sebagai jembatan yang mampu meredam ketegangan.
Menurut Toto, dalam politik modern, kemampuan menjadi jembatan jauh lebih penting dibanding sekadar memenangkan kontestasi. Sebab, ketua partai tidak hanya bertugas menjadi pemenang, tetapi juga memikul beban konsolidasi.
Meski begitu, ia mengingatkan, aklamasi bukan akhir dari proses, melainkan awal dari ujian sesungguhnya. Daniel ke depan dihadapkan pada tantangan besar, yakni merangkul seluruh kubu, menghapus residu konflik, serta menghidupkan mesin partai hingga ke tingkat paling bawah.
Selain itu, tantangan lain yang tak kalah penting adalah bagaimana menjadikan Golkar tetap relevan di mata generasi pemilih baru yang semakin dinamis dan kritis.
Jika gagal, aklamasi ini berpotensi hanya menjadi jeda damai sementara. Namun jika berhasil, momentum ini bisa menjadi titik balik kebangkitan Golkar Jawa Barat.
“Daniel bukan sekadar ketua baru. Ia adalah taruhan. Dan politik pada akhirnya akan membuktikan apakah jalan tengah ini sekadar aman, atau justru menjadi jalan paling cerdas untuk kembali besar,” tutup Toto.
SIWINDU.COM Berita Kuningan Terbaru Hari Ini