Siwindu.com – Duka mendalam menyelimuti keluarga Jamil, warga Desa Timbang, Kecamatan Cigandamekar, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, yang dilaporkan meninggal dunia di kawasan Golden Triangle, Laos. Di tengah kesedihan yang belum usai, keluarga kini menghadapi perjuangan berat untuk membawa jenazah almarhum pulang ke Tanah Air.
Harapan agar Jamil bisa dimakamkan di kampung halaman terus disuarakan keluarga. Namun, keterbatasan ekonomi dan belum adanya kepastian mengenai proses pemulangan membuat penantian tersebut semakin berat.
Iyah Samsiyah, bibi almarhum, menjadi salah satu pihak keluarga yang berharap pemerintah segera memberikan bantuan dan kepastian. Keluarga ingin Jamil kembali ke Desa Timbang agar dapat dimakamkan secara layak dan mendapat penghormatan terakhir dari orang-orang terdekatnya.
“Jamil berangkat dengan temannya ke Singapura, bulan Oktober 2025. Tapi waktu berangkat, dia tidak meminta izin kepada keluarga. Setelah keberangkatan itu, kami pernah komunikasi melalui video call dengan Jamil,” kata Iyah kepada wartawan, Senin (12/10/2026).
Sekitar tiga minggu kemudian, lanjut Iyah, keluarga memperoleh informasi bahwa Jamil telah berpindah ke wilayah Kamboja atau Laos. Namun, jalur perpindahan dan lokasi aktivitasnya selama berada di luar negeri belum dapat dipastikan secara terperinci berdasarkan dokumen yang dimiliki keluarga.
Komunikasi terakhir keluarga dengan Jamil tercatat pada 22 Juli 2026. Setelah itu, hubungan terputus hingga keluarga memperoleh informasi bahwa Jamil meninggal dunia pada 11 Agustus 2026 di kawasan Zona Ekonomi Khusus Golden Triangle, Laos.
“Kabar keponakan saya telah meninggal itu baru diterima keluarga tanggal 7 September 2026 dari RT dan RW di sini. Informasinya dari surat KBRI di Laos,” jelasnya.
Sebelumnya sebagaimana diberitakan sejumlah media lokal Kuningan, kematian Jamil masih ditelusuri pemerintah daerah bersama pihak kepolisian untuk memastikan informasi dan kronologi kejadian. Disnakertrans Kabupaten Kuningan saat itu menyatakan telah melakukan koordinasi dengan pihak terkait.
Sejak menerima kabar tersebut, keluarga berupaya mencari jalan agar jenazah Jamil dapat segera dipulangkan. Namun, persoalan biaya menjadi kendala besar karena keluarga mengaku tidak mampu menanggung seluruh kebutuhan pemulangan secara mandiri.
Pada 6 Oktober 2026, keluarga menyusun surat permohonan bantuan pemulangan jenazah. Dalam surat tersebut, keluarga menyampaikan upaya komunikasi dengan Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia dan KBRI yang menangani urusan di Laos.
Menurut keterangan keluarga, hingga kini mereka masih menantikan kepastian mengenai langkah konkret yang dapat ditempuh untuk mempercepat proses pemulangan.
Iyah berharap pemerintah memberikan perhatian serius terhadap kondisi yang dihadapi keluarga. Baginya, kepulangan jenazah Jamil merupakan harapan yang sangat berarti agar almarhum bisa dimakamkan di kampung halamannya.
“Kami atas nama keluarga juga berharap pemerintah membantu menjembatani koordinasi dengan pihak berwenang di Laos, termasuk menyangkut persyaratan administrasi, prosedur pemulangan, serta kemungkinan dukungan pembiayaan,” harapnya dengan nada sedih.
Keprihatinan terhadap nasib keluarga Jamil juga disampaikan Iman Saepurrohman, yang akrab disapa Boim, selaku tetangga almarhum.
Boim berharap Pemerintah Kabupaten Kuningan tidak tinggal diam menghadapi persoalan tersebut. Menurutnya, keluarga yang sedang berduka membutuhkan dukungan nyata, terlebih ketika harus menghadapi persoalan pemulangan jenazah dari luar negeri dengan keterbatasan ekonomi.
Ia berharap Pemkab Kuningan melalui perangkat daerah terkait segera turun tangan, membantu mengoordinasikan kebutuhan keluarga, serta menjembatani komunikasi dengan pemerintah pusat dan instansi yang berwenang.
Boim juga meminta DPRD Kabupaten Kuningan ikut mengambil peran dalam memperjuangkan aspirasi keluarga. Sebagai lembaga perwakilan rakyat, DPRD diharapkan dapat menjadi penyambung lidah masyarakat dengan menyampaikan persoalan tersebut kepada pihak-pihak terkait dan mendorong adanya tindak lanjut.
Bagi Boim, persoalan yang dihadapi keluarga Jamil bukan semata-mata urusan pribadi, melainkan juga persoalan kemanusiaan yang membutuhkan kepedulian bersama.
“Saya berharap keluarga tidak harus berjuang sendirian di tengah duka dan keterbatasan yang mereka alami. Kehadiran pemerintah daerah dan wakil rakyat itu sangat penting untuk membantu mencari jalan keluar agar jenazah Jamil dapat segera dipulangkan,” harapnya.
SIWINDU.COM Berita Kuningan Terbaru Hari Ini
