Siwindu.com– Bagi dunia aset kripto yang bergerak tanpa tidur, 20 menit adalah waktu yang lebih dari cukup untuk mencetak rekor pencurian perbankan terbesar dalam sejarah umat manusia.
Pada Kamis malam (29/10/2026) pukul 20.05 UTC (atau Jumat dini hari pukul 03.05 WIB -red), sistem peringatan dini di markas Binance—bursa kripto terbesar di dunia—mulai menyala merah. Aliran dana keluar dari dompet panas (hot wallet) perusahaan mendadak terjadi dalam volume yang tidak masuk akal.
Menurut data on-chain dari TRM Labs, serangan pertama menghantam jaringan XRP Ledger, di mana 233,4 juta token XRP raib dalam sekejap. Hanya berselang menit, peretas mulai menyedot dana secara masif dari sembilan jaringan blockchain lain, termasuk Bitcoin, Ethereum, Solana, dan Tron.
Ketika debu digital mereda, Binance mendapati kenyataan pahit: aset kripto senilai $6,36 miliar (sekitar Rp100 triliun) telah berpindah tangan. Skalanya empat kali lipat lebih besar dari rekor peretasan sebelumnya yang menimpa bursa Bybit ($1,5 miliar) pada 2025.
“Anda mungkin bisa menyebutnya sebagai peretasan terbesar yang pernah ada dalam hal nilai moneter,” ujar Nic Puckrin, CEO Coin Bureau, kepada The Post.
Laptop Engineer, Skrip Penghancur Jejak, dan Elite Pyongyang
Siapa dalang di balik operasi kilat bernilai ratusan triliun ini? Firma intelijen blockchain asal AS, TRM Labs, menyatakan dengan tingkat keyakinan tinggi bahwa serangan ini didalangi oleh TraderTraitor, unit peretas elit yang disponsori oleh negara Korea Utara.
Laporan forensik mengungkap bahwa operasi ini sudah disiapkan matang setidaknya 36 jam sebelum eksekusi. Pelaku memulai langkahnya dengan menarik dana operasional dalam jumlah kecil dari layanan pencampur kripto, Tornado Cash.
Pada awalnya, Binance menduga insiden ini hanya bermula dari satu laptop engineer yang diretas. Namun, Co-CEO Binance, Richard Teng, belakangan mengonfirmasi bahwa tim keamanannya menemukan banyak “titik pelanggaran tambahan,” yang mengindikasikan ini adalah serangan kompleks yang dilakukan lebih dari satu orang.
Lebih gilanya lagi, pelaku menanamkan mekanisme self-destruct (penghancur otomatis) pada skrip mereka, membuat tim investigasi Binance kesulitan melacak sisa jejak digital.
Di jaringan Ethereum, TraderTraitor mengeksploitasi celah pada fitur delegasi “EIP-7702”. Dengan menyiapkan 50 otorisasi pra-tanda tangan sebelumnya, peretas berhasil mengubah hot wallet Binance menjadi semacam mesin penyedot otomatis (sweeper). Setiap kali ada dana baru yang masuk ke dompet tersebut, skrip peretas akan langsung memindahkannya dalam hitungan detik.
Uang yang Tak Bisa Diselamatkan dan Taktik “Peel Chain”
Menyadari bentengnya jebol, Binance segera menangguhkan seluruh penarikan dana di jaringan yang terdampak. Dalam manuver krisis, Binance bekerja sama dengan penerbit stablecoin seperti Tether (USDT), Circle (USDC), dan Ripple, lalu sukses memblokir aset curian senilai $2,67 miliar agar tidak bisa dicairkan.
Sayangnya, sekitar $3 miliar sisanya kemungkinan besar hilang selamanya. Peretas masih menguasai lebih dari 420.000 ETH dan 18.270 BTC (senilai sekitar $2,4 miliar) yang berada di luar jangkauan otoritas mana pun.
Untuk menghindari pelacakan, pelaku langsung memecah belasan ribu keping Bitcoin tersebut menjadi pecahan 1.000 dan 100 BTC menggunakan teknik yang disebut peel chain, membuat aliran dana menyebar bagai jaring laba-laba.
Berdarahnya Pasar dan Sentilan CZ untuk Elon Musk
Bagi belasan juta investor ritel global, peristiwa ini adalah tragedi. Harga Bitcoin langsung anjlok ke bawah level $80.000 untuk pertama kalinya dalam sebulan, sementara Ethereum jatuh ke level terendah dua bulanan di angka $2.230.
Namun, di tengah krisis, sebuah drama menggelitik justru terjadi di media sosial X. Miliarder Elon Musk merespons kabar peretasan ini dengan mengunggah deretan emoji tertawa dan menyeringai.
Cuitan itu memancing amarah Co-founder Binance, Changpeng Zhao (CZ). Ia memperingatkan Musk bahwa ini bukanlah waktu yang tepat untuk trolling (bercanda). CZ bahkan mengingatkan Musk bahwa Binance memiliki andil besar di perusahaan miliknya.
“Elon, saya sangat menghormatimu, tapi ini waktu yang buruk untuk troll. Tolong hentikan. Saham SPCX kami (dari investasi $500 juta kami di akuisisi Twitter-mu) bernilai lebih dari satu miliar. Kami akan sangat menghargai jika kamu menunjukkan sedikit dukungan,” tulis Zhao.
Di luar drama tersebut, Binance berjanji akan bertanggung jawab penuh. Binance menyatakan telah menyiapkan dana perusahaan lebih dari $6 miliar untuk menutupi seluruh kerugian pelanggan. Co-founder Yi He menambahkan bahwa layanan penarikan dana diharapkan sudah bisa beroperasi normal kembali paling lambat hari Minggu ini[cite: 1].
Referensi Utama:
- Bloomberg. (2026, 29 Oktober). Binance Suspends Deposits, Withdrawals After $6.3 Billion Hack Shakes Industry.
- New York Post. (2026, 30 Oktober). North Korean hackers steal $6.3B from Binance in ‘largest bank heist in human history’.
- TRM Labs. (2026, 30 Oktober). North Korea Steals USD 6.36 Billion From Binance in the Largest Hack in History.
SIWINDU.COM Berita Kuningan Terbaru Hari Ini
