Siwindu.com – Lanskap bisnis layanan pesan-antar di Amerika Serikat kembali mengalami gempa tektonik. DoorDash, perusahaan dominan di sektor pesan-antar restoran, secara resmi mengumumkan kesepakatannya untuk mengakuisisi aplikasi pengiriman bahan kebutuhan pokok, Instacart. Kesepakatan bernilai 17 miliar dolar AS (sekitar Rp267 triliun) ini menandai langkah konsolidasi raksasa yang berpotensi memonopoli arus logistik ritel di Negeri Paman Sam.
Aksi korporasi ini seperti yang dilaporkan oleh Reuters dirancang untuk menggabungkan kekuatan dua raksasa layanan pengiriman dalam menghadapi dominasi ritel konvensional seperti Walmart dan Amazon.
Detail Kesepakatan dan Rencana Integrasi
Berdasarkan rilis resmi perusahaan, DoorDash akan membeli Instacart dengan harga 65 dolar AS per saham, menggunakan kombinasi uang tunai dan saham. Angka ini merepresentasikan premi sebesar 26 persen dari harga penutupan saham Instacart pada 22 Oktober lalu, tepat sebelum rumor akuisisi ini bocor ke publik. Sedikitnya 75 persen dari total nilai transaksi akan dibayarkan dalam bentuk tunai.

Menanggapi mega-merger ini, CEO DoorDash Tony Xu, sebagaimana diwartakan oleh NBC News, memastikan bahwa pelanggan Instacart kini akan mendapatkan akses berbelanja di lebih dari 50.000 toko tambahan di luar 100.000 toko yang sudah ada. Keuntungan lainnya bagi pelanggan setia adalah peleburan biaya keanggotaan; anggota DashPass dan Instacart+ hanya perlu membayar satu biaya langganan.
Meski diakuisisi, DoorDash berkomitmen untuk mempertahankan merek, teknologi, dan ekosistem aplikasi Instacart. Kedua entitas ini akan terus beroperasi sebagai perusahaan yang terpisah dan independen hingga transaksi benar-benar ditutup, yang diperkirakan terjadi pada akhir 2027 atau semester pertama 2028 bergantung pada persetujuan pemegang saham dan regulasi anti-monopoli.
Cetak Rekor Pendapatan di Tengah Kontroversi
Pengumuman akuisisi ini dilakukan bersamaan dengan rilis laporan pendapatan kuartal ketiga DoorDash yang dimajukan jadwalnya. Perusahaan sukses mencetak rekor triwulanan baru untuk pendapatan, laba bersih, serta nilai pesanan kotor (gross order value) yang melonjak 36 persen year-over-year mencapai 33,9 miliar dolar AS.
“Tony dan saya telah mengeksplorasi penyatuan Instacart dan DoorDash secara putus-nyambung selama bertahun-tahun. Kami terus kembali pada ide ini karena logika industrialnya selalu jelas,” ujar Apoorva Mehta, pendiri dan mantan CEO Instacart.
Pencapaian finansial DoorDash ini nyatanya mampu melampaui ekspektasi analis Wall Street. Kinerja solid ini dicapai bahkan setelah perusahaan seperti diungkap Forbes, terpaksa menelan pil pahit berupa kewajiban membayar denda penyelesaian senilai 131,5 juta dolar AS kepada regulator New York City akibat skandal pemotongan tip pekerja pengiriman (gig workers).

Akuisisi ini menambah panjang daftar belanja agresif DoorDash dalam membasmi kompetitornya. Sebelumnya, perusahaan telah menghabiskan miliaran dolar, termasuk mengakuisisi bisnis katering kampus GrubHub senilai 300 juta dolar AS dan membeli Deliveroo asal Inggris senilai 3,9 miliar dolar AS. Transaksi Instacart ini sekaligus menasbihkan Apoorva Mehta ke dalam jajaran miliarder baru dengan estimasi kekayaan bersih mencapai 1,3 miliar dolar AS.
SIWINDU.COM Berita Kuningan Terbaru Hari Ini
