Siwindu.com – Serangan brutal kembali mengguncang Lebanon. Di saat dunia menyambut gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran, militer Israel justru melancarkan bombardir besar-besaran yang menewaskan puluhan orang dan melukai ratusan lainnya.
Serangan yang terjadi Rabu (8/4/2026) ini disebut sebagai yang terbesar sejak perang pecah. Lebih dari 100 target dihantam hanya dalam hitungan menit, mencakup Beirut, Bekaa, hingga wilayah selatan Lebanon.
Dilansir dari Guardian.com, ledakan menghantam kawasan padat penduduk, memicu kepanikan massal. Rumah sakit dilaporkan penuh sesak, bahkan kekurangan tenaga medis dan pasokan darah untuk menangani korban.
Ironisnya, serangan ini terjadi hanya beberapa jam setelah kesepakatan gencatan senjata dua pekan antara Washington dan Teheran diumumkan. Namun, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan, kesepakatan tersebut tidak berlaku untuk Lebanon.
Di sisi lain, mediator seperti Pakistan dan pihak Lebanon justru menyatakan gencatan senjata seharusnya mencakup seluruh front, termasuk Lebanon. Perbedaan tafsir ini membuat situasi semakin panas dan tidak menentu.
Kelompok Hizbullah sendiri dilaporkan menahan diri dan menghentikan serangan ke Israel sebagai bagian dari kesepakatan. Namun, langkah Israel yang terus menggempur Lebanon memicu ancaman eskalasi lebih luas di kawasan.
Sejak konflik memanas awal Maret, lebih dari 1.500 orang dilaporkan tewas di Lebanon dan jutaan lainnya mengungsi akibat serangan tanpa henti.
Situasi kini berada di ujung tanduk. Gencatan senjata yang diharapkan meredakan konflik justru terancam runtuh, sementara rakyat sipil kembali menjadi korban di tengah tarik-menarik kepentingan geopolitik.
SIWINDU.COM Berita Kuningan Terbaru Hari Ini