Siwindu.com – Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali memanaskan tensi dagang global dengan menaikkan tarif impor terhadap produk-produk asal China menjadi 104 persen. Kebijakan ini disebut sebagai respons atas tarif balasan yang diberlakukan oleh pemerintah China.
Dilansir dari New York Post, AS menyebut kebijakan tarif China sebagai “kesalahan besar” dan memperingatkan bahwa tarif sebesar 104 persen akan diberlakukan mulai tengah malam waktu setempat. Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, menegaskan bahwa AS “tidak akan mundur” dan siap mengambil langkah lanjutan jika diperlukan.
Pihak China, di sisi lain, mengecam langkah AS tersebut dan menyatakan akan “berjuang sampai akhir.” Masih dari New York Post, pemerintah China menyebut kebijakan tarif Trump sebagai bentuk pemerasan dan tindakan sepihak yang mengancam stabilitas perdagangan dunia.
Dampak langsung dari kebijakan ini pun terasa di berbagai pasar keuangan. Dilansir dari AP News, indeks saham utama di Asia langsung mengalami penurunan tajam setelah pengumuman resmi dari Gedung Putih. Indeks Nikkei 225 di Jepang tercatat anjlok hampir 4 persen, disusul indeks Kospi di Korea Selatan dan S&P/ASX 200 di Australia yang juga mengalami koreksi signifikan.
Sementara itu, analis dari Wedbush Securities, Dan Ives, memperingatkan bahwa tarif yang dikenakan Trump akan sangat membebani konsumen Amerika Serikat. “Ini seperti badai harga kategori 5 bagi konsumen AS,” ujar Ives seperti dikutip dari MarketWatch.
Menurut Ives, banyak perusahaan AS, khususnya di sektor teknologi, akan mengalami kenaikan biaya produksi akibat terganggunya rantai pasokan global. Hal ini dikhawatirkan akan berdampak langsung terhadap harga barang-barang elektronik dan kebutuhan sehari-hari.
Baca juga: China Balas Tarif Trump, Produk AS Kena Bea Impor hingga 84 Persen
Langkah Trump ini diklaim sebagai upaya untuk mendukung industri domestik dan mengurangi ketergantungan pada produk luar negeri, namun banyak pihak menilai kebijakan ini justru berpotensi memperdalam ketegangan geopolitik serta memicu perlambatan ekonomi global.
Situasi ini terus berkembang, dan dunia kini menanti langkah balasan dari Beijing serta potensi negosiasi lanjutan antara dua negara dengan perekonomian terbesar di dunia tersebut.
SIWINDU.COM Berita Kuningan Terbaru Hari Ini