Siwindu.com – Gubernur Jawa Barat, H Dedi Mulyadi SH MM, menegaskan pentingnya pendidikan berbasis kedisiplinan dan pembentukan karakter dalam pidatonya saat menjadi Inspektur upacara peringatan Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) ke-117 tingkat Provinsi Jawa Barat, di Lapangan Gasibu, Bandung, Selasa (20/52025).
Di hadapan peserta upacara yang terdiri dari pelajar, ASN, TNI-Polri, dan tokoh masyarakat, Gubernur yang lebih akrab disapa KDM (Kang Dedi Mulyadi) ini dengan lantang mempertanyakan kritik yang menyamakan pola pendidikan disiplin dengan sistem “barak militer” yang dianggap melanggar hak anak.
“Kalau anak-anak dibangunkan jam 4 pagi untuk salat Subuh, dimana letak salahnya?. Kalau mereka disuruh membereskan tempat tidur sendiri, apa pelanggaran hak anaknya?. Kalau anak-anak diajarkan Shalat Subuh, kuliah Subuh, sarapan sehat dengan telur, nasi, pisang, dan susu, apa masalahnya?,” ujar Dedi dengan nada berapi-api dalam pidatonya.
Ia menegaskan bahwa nilai-nilai seperti kedisiplinan, kebersihan, spiritualitas, dan kebersamaan justru merupakan bagian dari hak anak yang kerap hilang di lingkungan rumah tangga modern yang serba individualis.
“Dimana letak salahnya kalau anak-anak diajarkan untuk antri, berdoa sebelum makan, belajar dengan penuh penghormatan pada guru, menatap mata gurunya saat belajar agar terjadi transfer energi?. Hari ini, semua itu digantikan papan digital. Guru tak lagi mengajarkan spiritualitas, murid pun kehilangan rasa hormat,” tegasnya.
Dedi juga menyentil sistem pendidikan berbasis digital yang dinilainya mencabut hubungan emosional antara guru dan murid, menggantikan interaksi bernilai dengan efisiensi kosong.
“Hari ini, kita terlalu sibuk mengejar kecanggihan teknologi, tapi lupa menanamkan nilai-nilai luhur. Anak-anak tak lagi kenal makna keheningan kelas, tak lagi kenal rasa khidmat saat guru bicara,” katanya.
Menanggapi kritik yang menyebut pendekatan ini terlalu militeristik, Dedi menjawab lugas, justru hak-hak anak itu ada di dalam pendidikan yang menanamkan kedisiplinan, kerapian, spiritualitas, dan sportivitas.
“Hal yang mereka tidak dapatkan di rumah, tapi bisa didapat di lingkungan pendidikan yang terstruktur,” ungkapnya.
Pidato Gubernur Dedi Mulyadi tersebut sontak menjadi sorotan dan ramai diperbincangkan, terutama karena dianggap sebagai jawaban keras terhadap pihak-pihak yang menolak model pendidikan disiplin dengan label “barak militer”. Bagi Dedi, kebangkitan nasional di era kini bukan lagi soal perjuangan fisik, tapi perjuangan membangkitkan karakter generasi muda.
“Inilah kebangkitan sesungguhnya. Saat anak-anak kita bangun pagi, disiplin, belajar menghormati, dan hidup dalam nilai-nilai,” pungkasnya.
Usai upacara, sebagaimana tampak ditayangkan dalam live video Youtube Pemprov Jabar itu, Gubernur Dedi Mulyadi langsung menghampiri para peserta upacara. Ia pun menyalami dan memeluk erat satu persatu para siswa peserta pendidikan “barak militer” penuh dengan kasih sayang.
SIWINDU.COM Berita Kuningan Terbaru Hari Ini