SIWINDU.com – Langkah kaki Dr Wahyu Hidayah MSi tak pernah jauh dari tanah. Di antara barisan padi yang mulai menguning atau ladang yang kering ditinggal generasinya, ia mendengar keresahan terkait siapa yang akan menanam besok?. Kalimat itu bukan sekadar tanya, tapi panggilan.
Kini, sosok yang menjabat sebagai Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Diskatan) Kabupaten Kuningan itu kembali menorehkan prestasi. Ia menjadi salah satu dari tujuh ASN terbaik yang dikirim Pemerintah Kabupaten Kuningan dalam ajang Penilaian PNS Berprestasi Provinsi Jawa Barat Tahun 2025. Tapi bagi Wahyu, pengakuan bukanlah tujuan. Ini hanya cara lain untuk mengangkat suara petani kecil yang kerap luput dari panggung birokrasi.
“Gagasan saya lahir bukan dari balik meja kantor, tapi dari sawah, dari diskusi dengan petani, penyuluh, dan anak-anak muda desa,” tuturnya pelan namun tegas, Sabtu (12/7/2025).
Gagasan itu ia beri nama “Strategi Regenerasi Petani dalam Menjawab Tantangan Ketahanan Pangan di Era Modern.” Sebuah ikhtiar besar yang ia dorong agar sektor pertanian tak sekadar bertahan, tapi juga tumbuh dan dihargai. Bagi Wahyu, regenerasi petani bukan cuma angka dalam laporan, namun itu tentang masa depan pangan bangsa.
Ia melihat fakta yang mencemaskan: mayoritas petani di Kuningan berusia di atas 45 tahun. Sebagian bahkan sudah sepuh. Sementara itu, generasi muda lebih memilih bekerja di kota, menjauhi lumpur dan cangkul.
Alih-alih menyalahkan, Wahyu mencoba memahami. Ia mulai membangun strategi yang memadukan edukasi, teknologi, dan pemberdayaan komunitas. Ia ciptakan ruang pelatihan, dorong digitalisasi pertanian, dan membangun jaringan kerja sama lintas sektor.
“Petani zaman sekarang harus bisa pegang cangkul dan ponsel sekaligus,” ujarnya dengan senyum.
Semangat inovatif Wahyu tak hanya terdengar di Kuningan. Tahun 2022, ia dinobatkan sebagai peserta terbaik dalam Digital Leadership Academy (DLA) hasil kerja sama Kominfo RI dan Lee Kuan Yew School of Public Policy – NUS. Tak lama, ia menjadi satu-satunya ASN Kuningan yang terpilih mengikuti International Visitor Leadership Program (IVLP) yang diselenggarakan oleh U.S. Department of State, menjelajah Washington DC, North Carolina, dan Boston selama tiga pekan.
“Di Amerika, saya belajar bagaimana teknologi, ekonomi digital, dan kebijakan publik saling menopang. Tapi di hati saya, tetap ada desa. Tetap ada petani. Tetap ada sawah,” kenangnya.
Kini, ketika namanya masuk dalam jajaran kandidat ASN berprestasi Jawa Barat, Wahyu tetap sama, yakni hadir di lapangan, mendengar keluh kesah petani, dan menyiapkan masa depan dari tempat paling sunyi, dari sawah, dari desa, dari titik di mana pangan mulai tumbuh.
Sementara itu, Bupati Kuningan Dr H Dian Rachmat Yanuar MSi, menyebut Wahyu sebagai cermin wajah baru birokrasi di daerah, karena ia anggap sebagai birokrat profesional, berpikiran global, tapi tetap membumi dan berpihak pada rakyat.
SIWINDU.COM Berita Kuningan Terbaru Hari Ini