Konservasi Berbasis Masyarakat, KTH Rimba Mekar Tanam dan Rawat Hutan Ciremai

2 minggu ago 20 Dilihat

SIWINDU.COM – Peran masyarakat desa penyangga dalam menjaga kawasan hutan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) terus diperkuat melalui pendekatan konservasi berbasis masyarakat. Salah satunya dilakukan Kelompok Tani Hutan (KTH) Rimba Mekar, Desa Padabeunghar, Kabupaten Kuningan, yang secara konsisten melakukan penanaman dan perawatan hutan di kawasan zona rehabilitasi TNGC.

Jumat (23/1/2026), puluhan anggota KTH Rimba Mekar melaksanakan penanaman pohon endemik dan jenis Multi Purpose Tree Species (MPTS) di Blok Tegal dan Blok Batu Kuda, kawasan rehabilitasi TNGC di sekitar Kebun Raya Kuningan. Kegiatan yang dimulai sejak pukul 08.00 WIB itu merupakan bagian dari komitmen jangka panjang masyarakat dalam menjaga keberlanjutan ekosistem hutan Gunung Ciremai.

Ketua Paguyuban Silihwangi Majakuning, Nandar, mengatakan kegiatan tersebut tidak hanya berfokus pada penanaman, tetapi juga pemeliharaan lanjutan terhadap tanaman yang telah ditanam sebelumnya. Menurutnya, konservasi harus dilakukan secara berkelanjutan agar memberikan dampak nyata bagi kelestarian hutan.

“Hari ini kami melakukan penanaman di zona rehabilitasi sekaligus pemeliharaan lanjutan di Blok Batu Kuda. Jenis tanaman yang didorong adalah pohon endemik Gunung Ciremai, dengan porsi MPTS sekitar 10 persen, seperti petai dan jengkol, untuk mendukung kebutuhan ekonomi warga,” ujar Nandar.

Ia menjelaskan, kegiatan konservasi yang dilakukan KTH di bawah naungan Paguyuban Silihwangi Majakuning tumbuh dari kesadaran masyarakat itu sendiri. Permintaan kegiatan berasal dari anggota KTH, sementara paguyuban berperan memberikan dukungan bibit, pendampingan teknis, serta evaluasi berkala.

Warga juga selektif dalam memilih bibit tanaman. Jenis pohon yang ditanam memiliki perakaran kuat, mampu menyerap air, dan berumur panjang, sehingga diharapkan mampu menjaga fungsi ekologis kawasan hutan dalam jangka panjang.

“Kami selalu menekankan agar kegiatan tidak berhenti pada penanaman saja. Pemeliharaan dilakukan secara rutin, minimal setiap triwulan. Karena masyarakat hidup dan beraktivitas di kawasan ini setiap hari, pengawasan dan perawatan berlangsung secara alami,” jelasnya.

Baca Juga:  Pemdes Cikalahang Somasi Keras PDAM Kuningan, Tenggat Waktu 10 Hari

Selain rehabilitasi hutan, KTH Rimba Mekar juga berperan aktif dalam pengamanan kawasan TNGC. Bersama paguyuban, mereka rutin melakukan patroli hutan, pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), serta turut mengawasi potensi pencurian kayu.

Atas peran tersebut, Paguyuban Silihwangi Majakuning baru-baru ini mendapatkan apresiasi dari jajaran Kementerian Kehutanan dalam agenda silaturahmi nasional, khususnya terhadap kinerja kelompok tani hutan di wilayah Majalengka, Kuningan, dan Cirebon.

“Kami berharap percepatan kerja sama (PKS) dengan pemerintah pusat dapat segera terealisasi, sehingga pengelolaan kawasan hutan berbasis masyarakat bisa semakin kuat dan berkelanjutan,” tambah Nandar.

Kegiatan penanaman dan pemeliharaan hutan tersebut melibatkan puluhan anggota KTH Rimba Mekar dan dihadiri perwakilan Koramil Pancalang, Kodim 0615/Kuningan, serta Balai Taman Nasional Gunung Ciremai sebagai bentuk kolaborasi lintas sektor dalam menjaga kawasan hutan.

Sementara itu, perwakilan warga Desa Padabeunghar, Darsa, menuturkan, keterlibatan masyarakat dalam menjaga kawasan hutan Ciremai dilakukan secara berkelanjutan, mulai dari penanaman, perawatan vegetasi, hingga pencegahan kebakaran hutan.

“Setiap musim kemarau kami membuat sekat bakar sebagai langkah antisipasi kebakaran. Bahkan ketika kebakaran terjadi, masyarakat sekitar hutan juga turun langsung menjadi pemadam awal,” ujarnya.

Ia menekankan, keberhasilan konservasi tidak hanya diukur dari aspek ekologi, tetapi juga harus berdampak pada kesejahteraan masyarakat.

“Ekologi harus mendukung ekonomi, sosial, dan budaya. Kalau hanya ekologinya saja yang berjalan, itu belum bisa disebut berhasil. Konservasi dikatakan berhasil ketika masyarakatnya ikut sejahtera,” tegas Darsa.

Saat ini, KTH Rimba Mekar memiliki sekitar 40 anggota aktif. Jumlah tersebut terus bertambah dengan keterlibatan warga dari desa sekitar seperti Pasawahan, Padaherang, hingga Bantaragung dalam berbagai kegiatan pelestarian hutan.

Melalui konservasi berbasis masyarakat, KTH Rimba Mekar bersama Paguyuban Silihwangi Majakuning membuktikan bahwa pelestarian hutan dapat berjalan seiring dengan penguatan peran dan kesejahteraan warga desa penyangga kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *