Petani Muda Kuningan Bukti Nyata Regenerasi, Wildan: Saya Bukan Pengamat, Saya Petani

Agustus 6, 2025 17 Dilihat

Siwindu.com – Di tengah tantangan regenerasi petani yang kerap disebut mandek, Wildan Mauludin tampil sebagai bukti hidup bahwa anak muda masih ada yang mau turun ke sawah. Lahir dan besar di Dusun Manis, Desa Cihirup, Kecamatan Ciawigebang, Kabupaten Kuningan, Wildan memilih jalan hidup yang berbeda dari kebanyakan anak muda: ia pulang kampung untuk bertani.

“Saya bukan pengamat, saya petani. Saya bukan simbol, tapi bukti,” tegas Wildan, Rabu (6/8/2025).

Lulusan Agribisnis ini menolak anggapan bahwa menjadi petani adalah pilihan terakhir. Ia justru merasa panggilan jiwanya ada di ladang. “Negeri ini tidak akan makan dari wacana. Dan sawah di desa kami tidak akan menanam sendiri,” ucapnya.

Tahun 2019, Wildan mulai menggarap beberapa petak sawah. Kini, ia sudah mengelola 13,5 hektare lahan pertanian. Ia tak hanya mencangkul, tapi juga membawa teknologi dan inovasi ke tengah lumpur: mulai dari combine harvester, traktor roda empat, sistem irigasi tetes, hingga oven pengering padi yang ia rancang sendiri. Ia juga aktif mengikuti pelatihan dari BBPP Lembang dan Dinas Pertanian.

“Bertani bukan soal menunggu panen, tapi soal terus bergerak,” tegasnya.

Wildan menepis anggapan bahwa regenerasi petani hanyalah agenda seremonial. Menurutnya, sudah ada 685 petani milenial di Kabupaten Kuningan yang aktif dan terlatih. Mereka bukan pajangan saat panen raya, tapi benar-benar turun ke lapangan dan membangun ekosistem tani yang berkelanjutan.

Data Sensus Pertanian 2023 mencatat ada 10.674 petani usia 19–39 tahun di Kabupaten Kuningan, atau sekitar 17,56 persen dari total petani. Wildan adalah salah satunya. Ia terdata, terlatih, dan aktif bertani.

“Saya tahu ada yang meragukan. Tapi kami tidak cuma terdata, kami bergerak,” ujarnya.

Baca Juga:  TNI dan Pemkab Kuningan Perkuat Ketahanan Pangan dengan Gerakan Tanam Padi

Ia juga menanggapi skeptisisme terhadap alat dan mesin pertanian (alsintan) yang disebut-sebut hanya jadi pajangan proyek.

“Saya pakai combine harvester sendiri saat panen. Saya tahu cara operasikan, rawat, bahkan berbagi dengan petani sekitar. Teknologi bukan gaya-gayaan. Ia alat perjuangan. Biaya panen saya turun, produktivitas naik 30 persen,” jelasnya.

Tak hanya berjuang sendiri, Wildan dan rekan-rekan petani muda membentuk komunitas. Mereka mengikuti sekolah lapang, pelatihan digitalisasi, literasi keuangan, dan wirausaha tani. Mereka belajar memahami pasar, teknologi, dan keberlanjutan pertanian.

“Saya aktif mengajak anak muda di desa lain. Karena regenerasi tidak bisa tumbuh kalau sendirian. Harus ada dukungan, ruang, dan kepercayaan,” katanya.

Kini, Wildan masuk 3 besar finalis Petani Milenial Regenerasi Komoditas Tanaman Pangan Terbaik se-Jawa Barat. Ia telah lolos tahap verifikasi lapangan dan tinggal menunggu hasil akhir.

“Bukan untuk gagah-gagahan. Tapi agar anak muda desa tahu, petani bisa membanggakan. Bisa menginspirasi,” ujar Wildan.

Ia pun mengajak siapa pun yang ingin bicara soal regenerasi petani, untuk langsung turun ke sawah.

“Lihat lumpur di kaki kami. Lihat bibit di tangan kami. Lihat kerja, bukan kata-kata. Karena perubahan itu tidak lahir dari acara, tapi dari tangan-tangan yang menyentuh tanah,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *