Banjir Jakarta Kiriman dari Bogor, Banjir Cirebon dari Kuningan?

Banjir Jakarta Kiriman dari Bogor, Banjir Cirebon dari Kuningan?
Suasana banjir di Cirebon yang dituding kiriman dari Kuningan. (Foto: detik.com)
Desember 26, 2025 50 Dilihat

SIWINDU.COM – Istilah banjir kiriman kembali mengemuka seiring terjadinya bencana banjir di sejumlah wilayah Cirebon, Selasa (23/12/2025) lalu. Jika selama ini publik kerap mendengar banjir Jakarta disebut sebagai kiriman dari Bogor, kini muncul anggapan serupa bahwa banjir Cirebon merupakan kiriman dari Kabupaten Kuningan yang berada di wilayah hulu.

Isu tersebut langsung mendapat tanggapan dari Pemerintah Kabupaten Kuningan. Sekretaris Daerah (Sekda) Kuningan, U Kusmana, menegaskan, banjir yang terjadi di Cirebon bukan kiriman dari Kuningan.

Penegasan itu disampaikan Sekda usai melakukan pengawasan langsung ke sejumlah bantaran sungai di wilayah perbatasan Kuningan–Cirebon, khususnya di Kecamatan Mandirancan dan Pasawahan, Rabu (24/12/2025).

“Setelah kami cek langsung ke lokasi yang disebut sebagai penghasil air terbesar atau penyebab banjir, kondisi bantaran sungai di Kecamatan Mandirancan dan Pasawahan terlihat normal. Arus air juga berjalan sebagaimana umumnya saat hujan,” ujar Uu, sapaannya, kepada wartawan.

Menurutnya, hasil pantauan lapangan tersebut menunjukkan tidak adanya debit air berlebih atau luapan sungai dari wilayah Kuningan yang mengalir ke Cirebon. Ia menegaskan, penyebutan Kuningan sebagai penyebab banjir perlu dilihat secara objektif dan berbasis data.

“Secara teknis nanti akan disampaikan oleh Kepala Pelaksana BPBD dan Kepala Dinas PUTR,” tambahnya.

Meski membantah adanya banjir kiriman, Sekda menegaskan Pemkab Kuningan tetap membuka ruang dialog lintas wilayah guna mencari solusi bersama atas persoalan banjir yang kerap terjadi di daerah hilir.

“Kita akan lakukan dengar pendapat dan rembuk bersama pemerintah daerah sewilayah III Cirebon dengan melibatkan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS),” katanya.

Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Kuningan, Indra Bayu Permana, menjelaskan, persoalan banjir tidak bisa disederhanakan hanya pada satu wilayah, melainkan harus dilihat dari keterkaitan sebab-akibat di seluruh aliran sungai.

Baca Juga:  Banjir Bandang Sumatera Jadi Peringatan, Pemda Kuningan Kembali Didesak Kaji Ulang Pencabutan Moratorium Perumahan

“Pada dasarnya kita sedang mencari titik permasalahan di mana, kemudian mencari solusi dari mulai hulu, tengah, sampai ke hilir secara komprehensif, termasuk tata kelola airnya,” kata Indra.

Ia menyebutkan, tata kelola sumber daya air juga berada dalam kewenangan BBWS serta melibatkan berbagai pihak terkait lintas daerah. Dari hasil peninjauan lapangan di wilayah hulu, kondisi lingkungan dinilai masih terjaga.

“Kami langsung ke titik sumber mata air. Berdasarkan keterangan kepala desa dan hasil pengecekan di lapangan, kerapatan vegetasi masih sangat bagus. Ini sekaligus menjawab isu dugaan penebangan di wilayah hulu,” jelasnya.

Untuk mendapatkan kesimpulan yang lebih akurat, BPBD Kuningan dalam beberapa hari ke depan akan melakukan kajian dan analisis menyeluruh terhadap sistem aliran sungai.

“Kami akan melakukan kajian dari aliran sungainya, mulai dari hulunya, anak-anak sungainya, hingga ke hilir. Termasuk melihat bagaimana tata kelola pintu air di wilayah bawah,” pungkas Indra Bayu.

Seperti banyak diberitakan sebelumnya, peristiwa banjir yang melanda Kabupaten Cirebon Selasa sore (23/12/2025) lalu, terjadi setelah hujan deras mengguyur wilayah tersebut sejak siang hari, menyebabkan sejumlah sungai dan saluran air meluap dan merendam permukiman warga hingga ketinggian air mencapai sekitar 170 cm di beberapa titik.

Dilansir dari detik.com, hujan yang terus mengguyur tersebut membuat genangan banjir begitu cepat menyebar ke kawasan permukiman, termasuk di Perumahan Taman Anggrek Plumbon, Desa Kebarepan, Kecamatan Plumbon, sehingga puluhan rumah rusak dan sebagian warga terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih aman.

Berdasarkan keterangan Koordinator Lapangan BPBD Kabupaten Cirebon, banjir tidak hanya disebabkan oleh hujan lokal dengan intensitas tinggi, tetapi juga diperparah oleh banjir kiriman dari wilayah hulu, terutama dari Kabupaten Kuningan. Air kiriman itulah yang mempercepat datangnya luapan air dan membuat genangan semakin tinggi di lokasi terdampak.

Baca Juga:  Tragedi Terulang, Warga Minta Pagar Pengaman Usai Bocah Hanyut di Selokan Alam ASRI

Seorang warga yang terdampak banjir juga menggambarkan bagaimana air datang secara tiba-tiba dengan arus deras, hingga merusak bagian rumah dan membawa beberapa barang berharga yang tidak sempat diselamatkan oleh keluarga mereka.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *