Disdikbud Kuningan Tegaskan Video MBG di Ciawigebang Bersifat Insidental, Bukan Tindakan Massal

Disdikbud Kuningan Tegaskan Video MBG di Ciawigebang Bersifat Insidental, Bukan Tindakan Massal
Salah satu menu MBG untuk siswa di Kuningan. (Foto: ist)
Februari 4, 2026 55 Dilihat

SIWINDU.COM – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Kuningan akhirnya memberikan tanggapan resmi terkait beredarnya video dan pemberitaan, terkait dugaan siswa memisahkan sisa makanan Program Makan Bergizi (MBG) di salah satu SMP di wilayah Kecamatan Ciawigebang.

Sekretaris Disdikbud Kabupaten Kuningan, Pipin Mansur Aripin melalui Kepala Bidang Pembinaan SMP, Rizal Arif Gunawan, menegaskan, kejadian dalam video tersebut telah diklarifikasi langsung oleh pihak kepala sekolah dan merupakan peristiwa insidental yang dilakukan beberapa siswa, bukan tindakan yang dilakukan secara massal.

“Berdasarkan hasil klarifikasi dari kepala sekolah, kejadian tersebut adalah insidental, dilakukan oleh beberapa siswa yang memisahkan sisa makanan. Bukan aksi massal atau kejadian yang mencerminkan pelaksanaan MBG secara keseluruhan,” ujar Rizal, Rabu (4/2/2026).

Rizal menjelaskan, Disdikbud melalui Bidang Pembinaan SMP telah melakukan koordinasi langsung serta pembinaan kepada pihak sekolah yang bersangkutan. Selain itu, pihaknya juga menginstruksikan agar pendampingan dalam pelaksanaan Program MBG diperkuat, termasuk edukasi kepada siswa terkait pengelolaan sisa makanan yang lebih baik dan bertanggung jawab.

“Pendampingan dan edukasi menjadi penting, agar siswa memahami nilai gizi makanan, menghargai proses penyediaannya, serta memiliki kesadaran dalam mengelola sisa makanan,” jelasnya.

Lebih lanjut, Rizal menegaskan, Program MBG di Kabupaten Kuningan secara umum tetap berjalan dengan baik dan memberikan manfaat besar, tidak hanya untuk pemenuhan gizi siswa, tetapi juga dalam pembentukan karakter, kedisiplinan, dan kepedulian sosial peserta didik.

Disdikbud Kabupaten Kuningan pun mengajak masyarakat untuk menyikapi informasi yang beredar secara bijak dan proporsional, serta tidak menarik kesimpulan yang dapat menimbulkan persepsi keliru terhadap dunia pendidikan.

“Kami berharap masyarakat dapat menyaring informasi dengan cermat. Jangan sampai satu peristiwa insidental menimbulkan penilaian yang tidak utuh terhadap program dan upaya dunia pendidikan,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *