Gagal Diselamatkan, Teleskop Raksasa NASA Segera Jatuh Menghantam Bumi

Gagal Diselamatkan, Teleskop Raksasa NASA Segera Jatuh ke Bumi

Siwindu.com – Kabar mengejutkan datang dari lembaga antariksa Amerika Serikat. Observatorium luar angkasa Swift milik NASA dipastikan akan mengakhiri perjalanannya dengan cara yang dramatis: jatuh menghantam Bumi dalam hitungan hari. Misi penyelamatan yang sempat diupayakan pada pekan lalu dilaporkan berakhir gagal, membiarkan wahana berbobot 1,5 ton tersebut pasrah tertarik gravitasi dan perlahan merosot memasuki atmosfer.

Teleskop Swift yang telah mengorbit selama lebih dari dua dekade ini diprediksi akan menyentuh Bumi paling lambat pada akhir pekan ini. Menurunnya ketinggian orbit teleskop secara drastis dalam beberapa tahun terakhir rupanya tidak lepas dari pengaruh badai dan aktivitas radiasi matahari yang ekstrem.

Ilustrasi teleskop NASA yang mengorbit di luar angkasa
Teleskop Swift milik NASA yang telah beroperasi sejak 2004 kini harus mengakhiri misinya setelah kehilangan ketinggian orbit secara drastis.

Puing Raksasa Mengancam Langit Dunia

Berakhirnya masa pakai satelit raksasa ini sebenarnya telah diantisipasi. Namun, proses jatuhnya yang memicu masuknya kembali atau re-entry puing-puing berukuran masif ke bumi memantik kekhawatiran tersendiri. Menurut keterangan resmi Brad Cenko kepada Associated Press, selaku kepala ilmuwan misi ini, sebagian besar struktur badan teleskop memang dirancang untuk hancur dan terbakar habis akibat gesekan panas saat melewati lapisan atmosfer.

Kendati demikian, para ahli memperingatkan bahwa elemen-elemen padat dan vital pada satelit tersebut, seperti cermin dan komponen berlapis tungsten, kemungkinan besar mampu bertahan dari panas ekstrem dan selamat hingga menyentuh permukaan Bumi. Lantas, di mana sisa-sisa puing berbahaya ini akan mendarat?

Berdasarkan perhitungan lintasan, kawasan laut terbuka memang menjadi lokasi pendaratan yang paling mungkin. Namun, seperti dilaporkan oleh The Daily Beast, terdapat sejumlah wilayah daratan padat penduduk yang masuk ke dalam zona bahaya jatuhnya serpihan (reentry zone). Peringatan ini mencakup wilayah benua Afrika, Australia, India, Amerika Tengah, Amerika Selatan, hingga negara-negara di kawasan Asia Tenggara.

Baca Juga:  Masih 11 Tahun, Bocah SD di Boyolali Temukan Celah Keamanan NASA usai Belajar Cybersecurity secara Otodidak
Prediksi lintasan jatuhnya satelit ke arah bumi
Meski sebagian besar diprediksi hancur di atmosfer, beberapa komponen berbahan logam padat dari teleskop Swift diperkirakan dapat mencapai permukaan Bumi.

Akhir Tragis Sang Pemburu Supernova

Di balik akhir misinya yang membawa ancaman ke Bumi, teleskop Swift memegang rekam jejak panjang sebagai salah satu pencapaian terbesar manusia dalam memahami alam semesta. Diluncurkan pertama kali pada 20 November 2004, instrumen canggih ini pada awalnya bertugas sebagai “pemburu” ledakan kosmik yang dinamakan gamma-ray bursts dan fenomena kematian bintang atau supernova.

Selama 22 tahun mengorbit, teleskop ini berhasil memetakan lebih dari 2.000 ledakan sinar gamma yang sangat kuat, serta mendokumentasikan proses hancurnya 1.400 bintang. Tak hanya itu, Swift juga menjadi saksi bisu atas kelahiran komet, pergerakan asteroid raksasa, hingga merekam momen mengerikan ketika lubang hitam (black hole) mencabik-cabik bintang yang lewat di dekatnya. Nama “Swift” (cepat) sendiri diambil dari kemampuan manuver teleskop ini yang sangat lincah saat harus berputar arah untuk menangkap fenomena letusan langit yang tiba-tiba terjadi.

Menanggapi kejatuhan satelit ini, John Nousek, astronom dari Pennsylvania State University yang pernah memimpin tim pengendali, menegaskan bahwa hal ini bukanlah sebuah kecelakaan teknis murni yang mengejutkan.

“Kami sudah tahu hari ini akan tiba sejak sebelum Swift diluncurkan. Setidaknya, untuk benda yang berada di orbit rendah Bumi, apa yang naik pasti pada akhirnya akan turun kembali ke Bumi. Dan memang, akhir dari proses itu selalu bersifat mendadak dan destruktif,” papar Nousek.

Hingga tulisan ini dibuat, NASA masih terus memantau pergerakan akhir dari teleskop Swift. Publik di berbagai belahan dunia, termasuk seperti yang ramai dibicarakan The Independent, kini tengah menanti laporan lebih detail mengenai koordinat akurat jatuhnya sang legenda langit sebelum hari perkiraan tiba.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *