Kuda Lumping Panyosogan: Warisan Mistis yang Tetap Hidup di Tengah Modernisasi

Kuda Lumping Panyosogan: Warisan Mistis yang Tetap Hidup di Tengah Modernisasi
Ratusan warga Desa Panyosogan Kecamatan Luragung, Kabupaten Kuningan, tumpah ruah menyaksikan hiburan sekaligus pentas budaya Kuda Lumping sebagai warisan budaya lokal setempat, Sabtu (5/4/2025). Foto: ist
April 6, 2025 189 Dilihat

Siwindu.com – Di tengah derasnya arus modernisasi, masyarakat Desa Panyosogan, Kecamatan Luragung, Kabupaten Kuningan, tetap menjaga kelestarian budaya lokal yang sarat nilai magis dan spiritual, Kuda Lumping.

Seni pertunjukan rakyat ini masih aktif dipentaskan di desa tersebut, dengan seluruh elemen pertunjukan yang dijaga secara turun-temurun. Tak hanya sekadar tontonan, Kuda Lumping di Panyosogan mengandung unsur mistik yang kuat.

Dikutip dari saegalery.com, para pemain diyakini dimasuki roh leluhur, hingga mampu melakukan aksi ekstrem seperti memakan pecahan kaca, silet, bahkan makan rumput dan minum langsung dari ember layaknya kuda sungguhan. Pertunjukan ini diiringi musik tradisional seperti reog dan genjring, menambah atmosfer magis dalam setiap penampilan.

Mak Sarti, pewaris utama Kuda Lumping di Panyosogan, menjadi sosok sentral dalam pelestarian kesenian ini. Ia menerima warisan tersebut dari mendiang Ibu Siti Aminah dan Bapak Wirajani. Menurutnya, kuda lumping yang mereka miliki berasal dari Cirebon.

Awalnya berjumlah enam, namun satu di antaranya hilang secara misterius. Konon, kuda lumping yang hilang itu terbuat dari kulit manusia dan dikenal dengan sebutan “nu hiji ti pakidulan”.

Ritual sakral seperti ngujuban dilakukan rutin setiap malam Jumat. Sajian seperti kopi pahit, rokok kawung, dan cabai hijau bakar disiapkan sebagai persembahan untuk karuhun. Ritual besar digelar setiap 12 Maulid tengah malam, di mana pusaka dan kuda lumping dimandikan dengan air dari tujuh sumur ditambah cai mulang. Air tersebut dipercaya membawa berkah bagi masyarakat, mulai dari kesuburan tanaman hingga penolak bala.

Pertunjukan Kuda Lumping tidak bisa dilakukan sembarangan. Sesaji khusus, izin spiritual kepada leluhur, serta iringan musik tradisional menjadi syarat wajib. Bahkan, ketika pernah diminta tampil dalam Hari Jadi Kuningan tahun 2005, rombongan sempat mengalami kendala teknis. Mobil yang membawa mereka mogok hingga akhirnya berjalan kembali setelah Mak Sarti membakar kemenyan dan membacakan doa khusus. “Kuda itu kendaraan, masa kendaraan naik kendaraan?” ujar Mak Sarti sambil tertawa kala itu.

Baca Juga:  Bapa Aing! Ratusan Kusir Delman Diminta Gubernur Dedi Mulyadi Istirahat Dulu, Diberi Kompensasi Rp3 Juta

Dalam merawat kuda lumping, Mak Sarti mengakui adanya ritual tertentu, seperti pembacaan jangjawokan untuk mengganti bahan-bahan rusak. Semua dilakukan sebagai bentuk penghormatan terhadap warisan leluhur.

Kuda Lumping bukan sekadar kesenian, tetapi identitas budaya yang terus dijaga oleh masyarakat Panyosogan. Di balik tarian keras dan alunan musik reog, tersimpan nilai spiritual yang mengakar dalam kehidupan warga.

Warga setempat, Abdul (51), mengaku merasa bangga sekaligus kagum dengan keberlangsungan tradisi ini di desanya.

“Dari kecil saya sudah nonton kuda lumping di sini. Ini bukan sekadar hiburan, tapi warisan dari leluhur yang harus dijaga. Banyak nilai kehidupan dan spiritual di dalamnya,” ujarnya, usai menonton Kuda Lumping yang ditampilkan pada Sabtu (5/4/2025).

Ia juga berharap generasi muda Panyosogan tetap melanjutkan tradisi ini agar tidak punah dimakan zaman. Sebab, dengan tetap menjaga warisan leluhur, maka itu menurutnya, menjadi salah satu bentuk penghormatan kepada para sesepuh desa yang telah merawat dan menjaga desa sejak dahulu kala.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *