CSR PT Joshua Mandek, Warga Cieurih Mengadu ke DPRD Jabar, Toto Suharto: Ambulans Saja Tak Pernah Ada!

CSR PT Joshua Mandek, Warga Cieurih Mengadu ke DPRD Jabar, Toto Suharto: Ambulans Saja Tak Pernah Ada!
Pabrik garmen PT Joshua di Jalan Raya Desa Cieurih Kecamatan Cidahu Kabupaten Kuningan, kembali menjadi sorotan, lantaran disinyalir belum memberikan CSR untuk kepentingan warga setempat. (Foto: Mumuh Muhyiddin/Siwindu.com)
1 minggu ago 41 Dilihat

SIWINDU.COM – Di balik pagar tinggi dan bangunan megah PT Joshua (Fashion Stitch Joshua) di Desa Cieurih, Kecamatan Cidahu, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, warga justru mengaku tak pernah merasakan manfaat tanggung jawab sosial perusahaan (CSR).

Kekecewaan itu memuncak dan diadukan langsung kepada Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat dari Dapil Jabar XIII, Drs Toto Suharto SFarm Apt, dalam kegiatan pengawasan penyelenggaraan pemerintahan di Aula Desa Cieurih, Senin (26/1/2026) siang.

Warga menilai, keberadaan perusahaan besar di wilayah mereka tidak berbanding lurus dengan kontribusi sosial bagi masyarakat sekitar. Bahkan, permintaan sederhana berupa satu unit ambulans untuk kepentingan umum tak kunjung direalisasikan.

Menanggapi aduan tersebut, Toto Suharto melontarkan kritik keras. Ia menegaskan, PT Joshua sebagai perusahaan besar tidak bisa mengabaikan kewajiban CSR yang telah diatur dalam peraturan perundang-undangan.

“Ini pabrik besar, bukan usaha kecil. Ada undang-undangnya. Warga hanya minta ambulans untuk kepentingan umum. Nilainya paling sekitar Rp300 juta. Masa perusahaan sebesar ini tidak bisa?,” tegas Toto.

Menurutnya, permintaan ambulans bukanlah tuntutan berlebihan, melainkan kebutuhan mendasar yang menyangkut keselamatan dan nyawa warga. Namun hingga kini, kata Toto, realisasinya nol besar.

“Jangan dibalik seolah-olah ini permohonan belas kasihan. Ini kewajiban. Yang kecil saja tidak pernah dipenuhi, apalagi yang besar,” tandasnya.

Lebih jauh, Toto mengingatkan, sikap abai terhadap masyarakat sekitar dapat berdampak serius terhadap izin lingkungan dan Analisa Masalah Dampak Lingkungan (Amdal) perusahaan.

“Kalau nanti perpanjangan izin bermasalah karena masyarakat tidak menyetujui Amdal, jangan heran. Lingkungan itu faktor utama. Perusahaan butuh masyarakat, bukan sebaliknya,” ujarnya.

Ia juga mengungkapkan, berbagai upaya dialog dan audiensi yang selama ini dilakukan hanya berhenti di janji, tanpa realisasi konkret di lapangan.

Baca Juga:  Suarakan Hak Anak, Legislator Jabar Toto Suharto Bawa Perda untuk Masyarakat Kuningan

“Katanya sudah audiensi, sudah duduk bersama. Tapi hasilnya apa? Tidak ada. Janji terus, realisasi tidak pernah,” ungkap Toto.

Selain CSR, Toto turut menyoroti minimnya penyerapan tenaga kerja lokal. Dari sekitar 3.000 karyawan yang bekerja di perusahaan tersebut, persentase warga sekitar dinilai masih jauh dari harapan masyarakat.

“Soal tenaga kerja memang kembali ke kebutuhan perusahaan dan keahlian. Tapi jaraknya terlalu jauh dari harapan warga. Ini juga jadi catatan serius. Tadi warga Cieurih mengadu ke saya,” katanya kepada Siwindu.com.

Toto menegaskan, hubungan perusahaan dan masyarakat harus dibangun atas prinsip win-win solution, bukan relasi timpang yang merugikan warga lokal.

“Perusahaan butuh izin, butuh lingkungan yang kondusif, butuh penerimaan masyarakat. Kalau masyarakat terus diabaikan, ini bisa jadi bom waktu,” tegasnya.

Ia pun mendesak PT Joshua segera merealisasikan CSR secara nyata, bukan sekadar retorika, demi menjaga keadilan sosial dan keharmonisan dengan masyarakat Desa Cieurih.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada penjelasan detail dari pihak PT Joshua terkait gejolak yang terjadi di masyarakat Desa Cieurih. PT Joshua sendiri yang bergerak di bidang garmen, berlokasi di wilayah Desa Cieurih, tepatnya di jalan raya Cidahu Kabupaten Kuningan penghubung arah Ciledug Kabupaten Cirebon.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *