Akademisi UIN Soroti Kepemimpinan Digital Models ala KDM

Mei 11, 2025 246 Dilihat

Siwindu.com – Model kepemimpinan Gubernur Jabar Kang Dedi Mulyadi (KDM) dinilai telah menciptakan terobosan baru dalam lanskap kepemimpinan di era digital.

Menurut Dr H Uu Nurul Huda SH MH, akademisi dari UIN Sunan Gunung Djati Bandung, gaya kepemimpinan Dedi Mulyadi layak disebut sebagai Kepemimpinan Digital Models atau KDM, yang mampu menarik perhatian publik secara luas dan menjadi magnet dalam dunia politik Indonesia.

Dr Uu menilai, penggunaan media sosial oleh Kang Dedi Mulyadi telah menciptakan ruang publik alternatif yang sangat efektif. “Kehadiran KDM di media sosial seolah-olah menjadi ruang Republik yang dirindukan publik. Inilah pemimpin yang sebenarnya, kata netizen,” kata Uu dalam keterangan tertulisnya yang dikirim ke Siwindu.com, Minggu (11/5/2025).

Lebih jauh, KDM dinilai mampu mengisi kekosongan hukum dalam sistem ketatanegaraan yang selama ini belum mampu menjawab kebutuhan publik akan akuntabilitas langsung dari para pemimpin. Dedi dianggap menghadirkan semacam pertanggungjawaban moral secara langsung kepada rakyat, melalui konten-konten yang ia unggah di media sosial.

“Sepertinya, KDM dengan KDM-nya mencoba mendobrak ‘kenyamanan’ pemimpin agar mau memberikan laporan pertanggungjawaban kepada publik, atas amanah yang mereka terima langsung dari rakyat,” tuturnya.

Namun, untuk bisa meniru model KDM yang diterapkan oleh Dedi Mulyadi, tidaklah mudah. Dr Uu mencatat ada empat kemampuan utama yang harus dimiliki seorang pemimpin agar bisa sukses menerapkan kepemimpinan digital models, yakni kepercayaan diri tinggi saat tampil di depan publik, kemampuan digital yang kuat baik secara pribadi maupun dalam tim, kecerdasan dalam memahami dan merespons masalah publik, dan kepekaan serta empati yang mendalam terhadap persoalan rakyat.

Ia menambahkan, efektivitas model KDM ini hanya akan maksimal jika didukung oleh sistem hukum yang lentur serta tim pemerintahan yang profesional. Meski menuai pro dan kontra, model KDM dianggap sebagai dinamika wajar dalam negara demokrasi.

Baca Juga:  Pasca Gejolak Pati, Gubernur Jabar ‘Perintahkan’ Kepala Daerah Hapus Tunggakan Pajak

“Model KDM yang dijalankan Kang Dedi Mulyadi bukan bim salabim, tapi buah dari proses panjang dan refleksi mendalam,” pungkas Dr Uu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *