Rokhmat Ardiyan Klarifikasi Longsor Cilengkrang: “Kami Patuhi Aturan, Ini Soal Cuaca Ekstrem”

Rokhmat Ardiyan Klarifikasi Longsor Cilengkrang: "Kami Patuhi Aturan, Ini Soal Cuaca Ekstrem"
Owner Wisata Arunika / Anggota DPR RI Fraksi Gerindra, H Rokhmat Ardiyan, menyampaikan tanggapan terkait longsor Lembah Cilengkrang, dalam acara Sawala Alam di Balai Desa Pajambon Kecamatan Kramatmulya, Sabtu (24/5/2025). Foto: Mumuh Muhyiddin/Siwindu.com
Mei 24, 2025 150 Dilihat

Siwindu.com – Polemik longsor di lereng utara Lembah Cilengkrang, tepatnya di kawasan wisata Arunika, akhirnya dijawab langsung oleh pemiliknya, H Rokhmat Ardiyan MM. Dalam forum Sawala Alam yang digelar DPD Sundawani Wirabuana di Balai Desa Pajambon, Sabtu (24/5/2025), Ardiyan angkat bicara dengan nada penuh empati, membuka fakta, menyampaikan permohonan maaf, dan menawarkan solusi konkret.

Di hadapan Wakil Bupati Kuningan Hj Tuti Andriani SH MKn, Ketua DPRD Nuzul Rachdy SE, Kepala Dinas Lingkungan Hidup, perwakilan BTNGC, Camat Kramatmulya Minthareja AP MSi, serta puluhan warga Pajambon dan aktivis lingkungan, Ardiyan tak menampik bahwa longsor di kawasan tebing atas Arunika telah memantik keresahan publik.

Namun ia menegaskan, niat awal membangun Arunika bukan untuk mengejar untung semata, melainkan sebagai bentuk kepedulian sosial.

“Saya ingin tempat ini jadi jalan kebaikan, bukan sumber bencana. Kami hadir untuk membuka lapangan kerja, bukan merusak alam. Kalau ada kekurangan, kami perbaiki. Tapi jangan langsung dihakimi seolah kami tak peduli,” ujarnya tegas.

Ia mengisahkan, sejak awal pembangunan, banyak kendala yang dihadapi. Tanah sempit, kontur curam, hingga batuan keras jadi tantangan. Namun semangat membangun kawasan wisata yang memberdayakan warga membuatnya terus maju. Kini, Arunika telah menyerap puluhan tenaga kerja lokal, termasuk dari warga Palutungan dan Pajambon.

Terkait longsor, Ardiyan menyatakan siap bertanggung jawab. Ia mengakui bahwa kawasan itu memang rawan, dan longsor pernah terjadi sebelumnya, bahkan sebelum Arunika berdiri.

“Longsor tahun 2015 dan 2017 itu sudah ada. Tapi kami tidak menutup mata. Kami relokasi kandang, kami tidak buang air sembarangan. Kami ikuti aturan. Cuaca ekstrem juga jadi faktor besar, tapi kami tidak lepas tangan,” katanya.

Baca Juga:  Puspita Cipta Group Klarifikasi Soal Penghentian Operasi Alat Berat di Lereng Ciremai

Ardiyan juga menyampaikan bahwa ia tak ingin mewariskan masalah kepada generasi berikutnya. Ia mendorong kolaborasi antara pemerintah, pengelola wisata, dan masyarakat untuk menjaga keseimbangan lingkungan.

Ia menyatakan siap membuat sumur resapan, biopori, kanal air, bahkan jika perlu pagar penahan tebing. Apa pun untuk menjaga keselamatan. Tapi menurut Ardiyan, terkait solusi jangan hanya saling tunjuk, namun ia mengajak semuanya duduk bareng mencari solusi bersama.

“Kami tidak sempurna, tapi kami tidak diam. Kami hadir untuk solusi, bukan menyulut konflik. Semoga Arunika tetap menjadi cahaya harapan, bukan bayang-bayang bencana,” tutup Anggota DPR RI Fraksi Partai Gerindra dari Dapil Jabar X (Kuningan, Ciamis, Banjar, Pangandaran) tersebut, disambut tepuk tangan peserta forum.

Sementara itu, aktivis lingkungan dari LSM Aktivitas Anak Rimba (Akar), Amalo, mengapresiasi kesediaan Ardiyan hadir dan berbicara langsung. Namun ia tetap memberi catatan kritis. Dikatakan, longsor besar memang sudah terjadi sejak 2017, namun kini risikonya meningkat karena ada aktivitas wisata dan bangunan di atasnya.

“Sekarang bukan soal siapa salah, tapi bagaimana kita mencegah kerusakan lebih jauh. Biopori, sumur resapan, dan pengendalian aktivitas dekat tebing mutlak dibutuhkan. Jangan sampai air hujan tidak lagi diserap tanah karena semua sudah ditutup bangunan,” kata Amalo.

Amalo juga mengusulkan agar area di bawah Arunika dijadikan embung atau resapan air. Ia menyebut potensi pencemaran limbah dan air limpasan harus diatasi, termasuk memperhatikan dampak terhadap warga di bawah yang terdampak secara langsung.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *