Demplot FFD Kuningan 2025 Tembus 12 Ton per Hektare, Wahyu: Ini Bukti Inovasi, Bukan Teori!

November 19, 2025 11 Dilihat

Siwindu.com – Terobosan besar kembali lahir dari dunia pertanian Kabupaten Kuningan. Melalui kegiatan Farm Field Day (FFD) Sekolah Lapang Tematik 2025, para petani binaan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Diskatan) sukses membuktikan terkait inovasi dan teknologi mampu mendongkrak produktivitas secara drastis.

Fakta itu terlihat dari hasil demplot di Kelompok Tani Simanjangan II, Desa Cidahu, Kecamatan Pasawahan, Senin (17/11/2025).

Kepala Diskatan Kuningan, Dr Wahyu Hidayah MSi, turun langsung melakukan monitoring sekaligus memberikan arahan teknis kepada para petani. Hadir pula Plt Kepala Bidang Penyuluhan Sopyan Pamungkas, jajaran UPTD KPP Cilimus, Kepala Desa Cidahu Abdul Munir, dan peserta FFD.

Pada kesempatan itu, Wahyu mengapresiasi capaian luar biasa demplot Salakadomas yang menggabungkan varietas unggul dengan Pupuk Organik Cair (POC). Kombinasi tersebut menghasilkan panen 12 ton per hektare, naik tajam dari sebelumnya 5,9 ton per hektare, meski penggunaan pupuk kimia dikurangi hingga 50 persen.

“Target kami memang 14 ton, namun capaian 12 ton ini sudah menjadi prestasi besar. Ini bukan sekadar angka, tetapi bukti bahwa keberanian berinovasi menghasilkan lompatan besar dalam pertanian,” tegas Wahyu.

Ia menegaskan, pertanian modern harus bergerak menuju sistem yang lebih ramah lingkungan dan tidak bergantung penuh pada pupuk kimia.

“Tanah kalau terus dibebani pupuk kimia, ia akan sakit dan kelelahan. Hari ini terbukti, pengurangan pupuk kimia 50 persen tetap menghasilkan panen tinggi. Ke depan kita ingin petani berani beralih ke organik 100 persen secara bertahap,” ujarnya.

Keberhasilan FFD tidak hanya terjadi di Cidahu. Di Desa Randobawailir, varietas Inpago bahkan menghasilkan 9,55 ton per hektare, padahal sebelumnya hanya 4,34 ton. Di desa-desa dengan produktivitas rendah pun, pendekatan teknologi SL Tematik mampu meningkatkan hasil panen dua hingga tiga kali lipat.

Baca Juga:  Pj Sekda Kuningan Dorong BUMDes Jadi Penggerak Ekonomi dan Pilar Ketahanan Pangan

“Data ini menunjukkan teknologi bukan ancaman, tetapi peluang. Setiap desa punya cerita keberhasilan. Ini bukan teori, tapi ini bukti nyata,” tegas Wahyu.

Wahyu yang merupakan mantan Pj Sekda Kuningan ini juga menegaskan, indikator petani modern telah berubah.

“Dulu petani disebut berhasil kalau punya sawah luas. Sekarang petani sukses adalah yang mau belajar, terbuka pada inovasi, dan menjadikan teknologi sebagai alat kemajuan,” ujarnya.

Ia berharap keberhasilan tersebut menjadi pemicu perubahan bagi seluruh desa di Kuningan.

“Yang kita panen hari ini bukan hanya gabah, tetapi ilmu dan mentalitas baru. Capaian 12 ton ini harus jadi inspirasi petani lain,” tutupnya.

Perwakilan petani Salakadomas, Rizal, mengakui awalnya banyak keraguan di lapangan.

“Awalnya kami ragu. Tapi setelah melihat hasilnya sendiri, kami yakin teknologi organik bisa meningkatkan panen,” ucapnya.

Sementara itu, Kepala Desa Cidahu, Abdul Munir, menilai program FFD benar-benar memberi dampak nyata.

“Di sini bukan teori, tapi praktik langsung. Ilmu seperti ini berdampak pada kesejahteraan petani,” ujarnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *