Dari Nisan Hingga Pesantren: Jejak Eyang Hasan Maolani di Desa Cilaja Kuningan 

Dari Nisan Hingga Pesantren: Jejak Eyang Hasan Maolani di Desa Cilaja Kuningan 
Ilustrasi Cover Buku Sejarah Cilaja. (Foto: Tim Jaladri Riset)
Desember 20, 2025 88 Dilihat

SIWINDU.COM – Haul Eyang Hasan Maolani yang kabarnya digelar Sabtu-Senin (20-22/12/2025) di Desa Lengkong, Kecamatan Garawangi, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, kembali menjadi momentum untuk menengok jejak syiar Islam yang ditorehkan Sang Eyang.

Pengaruh tersebut tidak hanya terasa di Lengkong sebagai pusat dakwahnya, tetapi menjalar ke sejumlah wilayah di Kuningan dan sekitarnya, tidak terkeculai di Desa Cilaja, Kecamatan Kramatmulya, yang ternyata hingga kini masih menyimpan jejak penting dari warisan tersebut.

Hal ini dibenarkan oleh Ketua Tim Jaladri Riset, Tito Yulianto, yang ditemui Siwindu.com saat sedang melakukan penelitian dalam rangka penyusunan Buku Sejarah Desa Cilaja, Sabtu (20/12/2025).

Melalui kerja lapangan, penelusuran dokumen keluarga, serta pengumpulan tradisi lisan, menurut Tito, tersirat pengaruh Eyang Hasan Maolani di Desa Cilaja tidak hadir dalam bentuk peristiwa tunggal yang spektakuler, melainkan sebagai proses panjang syiar, yang tumbuh perlahan, membentuk jejaring manusia, ruang ibadah, dan tradisi keagamaan.

Jaladri Riset juga menunjukkan catatan silsilah Eyang Hasan Maolani, khususnya dari jalur Eyang Mu’minah (Putri Eyang Hasan Maolani) yang diperoleh dari KH Muhammad Ma’shum, pengasuh Pondok Pesantren Daarul Furqon, Karang Luhur, Desa Cileuleuy, Kecamatan Cigugur, Kuningan.

“Dalam catatan tersebut tertulis secara eksplisit bahwa anak kedua Eyang Hasan Maolani, Eyang Mu’minah, memiliki beberapa anak, diantaranya Abdul Hakim (Hasan Amir, red) dan Nyai Kasmi. Lanjut ke bagian kelompok cicit, Nyai Kasmi tercatat memiliki anak bernama Nyai Subi’ah,” jelas Tito.

Informasi tersebut dibenarkan pula oleh Ustadz Ujang Jaenudin, cicit Hasan Amir, yang juga menjabat sebagai Kasipel (Kesra, red) di Desa Cilaja. Ia menuturkan, menurut informasi dari orang tuanya, Hasan Amir memang memiliki adik bernama Nyai Kasmi. Dan Nyai kasmi memiliki anak bernama Nyai Subi’ah.

“Nyai Subi’ah ini kemudian menikah dengan Kiai Ahmad Dasuki,” terang Tito, seraya menyampaikan kembali keterangan dari Ustadz Ujang.

Baca Juga:  Tradisi Ziarah Kubur Usai Shalat Idul Fitri di Desa Cilaja

Sampai situ, lanjut Tito, tampak jelas catatan silsilah dan keterangan dari tradisi lisan keluarga Hasan Amir menunjukkan kecocokan.

Bukti lain yang bisa ditemukan di Cilaja, yakni adanya bukti sejarah berupa makam dengan nisan beraksara pegon yang lokasinya berada di Pemakaman Umum (Blok Karang Anyar) Desa Cilaja. Aksara itu masih jelas terbaca, di nisan sebelah selatan, muka selatan, tertulis jelas, Hasan Amir bin Muhammad Amir. Dan di nisan utara, muka selatan, tertulis wafat tahun 1350.

“Kalau dikonversikan, berarti bertepatan dengan tahun 1931 Masehi,” terangnya.

Ditambahkan Tito berdasarkan juga keterangan dari Ustadz Ujang, Hasan Amir memiliki ayah bernama Muhammad Amir yang dimakamkan berdekatan dengan Eyang Mu’minah di Pemakaman Umum Desa Karangmangu Kecamatan Kramatmulya, tak jauh dari Desa Cilaja.

Berdasarkan hasil penelitian lapangan, masih kata Tito, ditemukan makam bertulisan pegon di Pemakaman Umum Desa Karangmangu, yang secara eksplisit tertulis Muhammad Amir, dengan tahun wafat 1334 H.

“Tahun ini bertepatan dengan tahun 1916 Masehi. di Sebelah baratnya terdapat pula makam Eyang Mu’minah dengan tahun wafat 1288 atau jika dikonversikan ke Masehi menjadi tahun 1906 Masehi,” ungkap Tito.

Lebih lanjut Tito menuturkan, Kiai Ahmad Dasuki yang merupakan adik ipar Hasan Amir atau menantu Nyai Kasmi, dimakamkan di Pemakaman Desa Cilaja, juga masih memiliki tulisan pegon yang jelas, Ahmad Dasuki, Wafat tahun 1361 Hijriah atau 1942 Masehi.

Rangkaian periode para tokoh tersebut menunjukkan kesinambungan yang sangat masuk akal secara kronologis, sekaligus menujukkan bagaimana syiar Islam bergerak dari satu generasi ke generasi berikutnya dalam lingkar keluarga dan murid (santri).

Jejak syiar tersebut tidak berhenti pada makam, silsilah, dan tradisi lisan, namun masyakarat Cilaja masih mengenal Langgar atau tajug At-Taqwa di Dusun Kaliwon sebagai salah satu ruang ibadah awal masyarakat setempat. Dari tempat bersejarah inilah, pengajian, shalat berjamaah, dan pendidikan dasar keagamaan tumbuh atas jasa Hasan Amir sebagai pendiri tajug “kolot” tersebut.

Baca Juga:  Jejak Sejarah KH Eyang Hasan Maolani: Pameran Peninggalan dan Upaya Penghormatan

Di jalur lain, syiar itu berkembang melalui Nyai Kasmi yang kemudian melahirkan tradisi pendidikan keagamaan melalui Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadi’ien yang didirikan cucunya, KH R Hidayat (Almarhum), di Dusun Manis, Desa Cilaja.

Sejak masa awal, tampak ikatan kuat diantara kedua keluarga dari satu keturunan ini. Mihrab Kayu berukir kaligrafi dan berangka tahun 1924 dengan ukiran nama Ahmad Dasuki tersimpan di Langgar At-Taqwa hingga saat ini. Artefak ini menjadi penanda kesinambungan ruang ibadah sekaligus peralihan generasi pengelola tradisi keagamaan di Cilaja.

Selain melalui ruang ibadah dan pendidikan, pengaruh Eyang Hasan Maolani di Cilaja juga hadir melalui tradisi seni bernuansa Islam, seperti rudat, genjring, dan gembyung tradisional, yang hidup dalam perayaan dan kegiatan keagamaan. Tradisi ini menjadi medium syiar yang menyatu dengan budaya lokal.

“Tidak sedikit tokoh agama di Cilaja yang merupakan lulusan pesantren Lengkong, termasuk Ustadz Ujang. Jejaring ini memperlihatkan bahwa syiar Eyang Hasan Maolani bergerak melalui sanad ilmu dan keteladanan, bukan sekedar simbol atau cerita,” ujar Tito.

Jejak Eyang Hasan Maolani di Cilaja tidak hadir sebagai momentum besar atau prasasti megah. Ia hidup dalam kebiasaan yang terus dijalani, nisan yang dirawat, tajug yang terus digunakan, pesantren yang terus mencetak santri, dan tradisi yang masih dijalankan.

“Dalam momentum haul tahun ini, refleksi terpenting bukan hanya mengenang masa lalu, melainkan merawat warisan agar tetap hidup di masa depan. Dari nisan hingga pesantren, jejak itu masih ada. Dan Cilaja menjadi salah satu ruang tempat syiar itu terus bernafas,” pungkas Tito.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *