Siwindu.com – Ancaman serius dari hama tikus mulai membayangi produktivitas pertanian di Kabupaten Kuningan. Menyikapi kondisi tersebut, Pemerintah Kabupaten Kuningan bergerak cepat dengan menggelar Gerakan Pengendalian (Gerdal) guna menekan potensi kerusakan yang lebih luas.
Hasilnya, sekitar 10 hektare areal persawahan di Desa Cikadu, Kecamatan Nusaherang, berhasil diamankan dari serangan hama tikus sawah (Rattus argentiventer) yang dalam beberapa pekan terakhir menunjukkan peningkatan signifikan.
Serangan terjadi pada fase krusial pertumbuhan tanaman padi, yakni usia 60 hingga 80 hari setelah tanam (HST). Pada fase ini, tanaman tengah memasuki masa pembentukan bulir, sehingga kerusakan sedikit saja dapat berdampak langsung terhadap hasil panen. Data di lapangan mencatat intensitas serangan telah mencapai 6,87 persen.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Kuningan, Wahyu Hidayah, turun langsung memimpin kegiatan di lapangan. Ia menegaskan bahwa hama tikus merupakan salah satu organisme pengganggu tanaman (OPT) paling berbahaya dalam budidaya padi.
“Tikus sawah berkembang biak sangat cepat dan menyerang hampir di ყველა fase pertumbuhan tanaman. Jika tidak dikendalikan secara serentak, serangannya bisa meluas dan berdampak pada penurunan produksi secara signifikan,” ujarnya, Sabtu (25/4/2026).
Menurutnya, pola serangan tikus yang masif dan cepat menjadikan penanganannya tidak bisa dilakukan secara biasa. Oleh karena itu, pendekatan terpadu menjadi kunci utama dalam pengendalian.
Dalam Gerdal tersebut, petani bersama petugas menerapkan berbagai metode pengendalian, mulai dari sanitasi lingkungan, pengaturan pola tanam, hingga penggunaan rodentisida berbahan aktif brodifakum. Langkah ini dirancang untuk menekan populasi tikus sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem pertanian.
Tak hanya aksi teknis di lapangan, kegiatan ini juga dimanfaatkan sebagai sarana edukasi bagi petani. Mereka diberikan pemahaman tentang pentingnya pengamatan rutin, penggunaan pestisida secara bijak, serta penerapan konsep pengendalian hama terpadu (PHT).
Wahyu menekankan bahwa keberhasilan pengendalian sangat bergantung pada kekompakan petani dalam satu hamparan. Ia mengingatkan, pengendalian yang dilakukan secara parsial hanya akan memindahkan masalah ke lahan lain.
“Kalau tidak dilakukan serentak, tikus hanya berpindah tempat. Tapi kalau dilakukan bersama-sama dalam satu kawasan, siklusnya bisa diputus dan populasinya ditekan,” tegasnya.
Sebagai bentuk dukungan konkret, pemerintah daerah juga menyalurkan bantuan rodentisida untuk pengendalian di lahan terdampak. Bantuan tersebut difokuskan pada areal seluas 10 hektare yang telah teridentifikasi mengalami serangan.
Pemerintah memastikan dukungan tidak berhenti pada satu kegiatan saja. Jika kebutuhan di lapangan masih belum terpenuhi, petani diminta segera mengajukan kembali agar penanganan bisa terus berlanjut.
“Silakan ajukan lagi jika masih kurang. Kami pastikan pemerintah hadir dan responsif, agar produksi tetap terjaga,” tambah Wahyu.
Kegiatan tersebut melibatkan berbagai unsur, mulai dari petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT), penyuluh pertanian lapangan, hingga kelompok tani setempat. Kolaborasi ini menjadi bagian dari strategi respons cepat menghadapi ancaman OPT pada musim tanam 2026.
SIWINDU.COM Berita Kuningan Terbaru Hari Ini