Siwindu.com – Wakil Bupati (Wabup) Kuningan Hj Tuti Andriani SH MKn meluapkan kekecewaannya saat melakukan inspeksi mendadak (sidak) Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SDN 1 Cilaja, Kecamatan Kramatmulya. Tuti menyoroti porsi sayur yang dinilai terlalu minim hingga menyebut kondisi tersebut tidak layak untuk anak-anak sekolah.

Dalam sidak yang dilakukan Selasa (5/5/2025) pekan lalu, Tuti langsung memperhatikan isi menu MBG yang diterima siswa. Ia kemudian mempertanyakan jumlah sayur yang hanya terdiri dari beberapa potong kecil.
“Ini tadi sayurnya sebesar ini ya? Banyak nggak segini sayurnya? Kurang? Kurang kan. Nah ini nggak layak sayurnya sebesar ini,” ujar Tuti.
Ia meminta dapur pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang melayani SDN 1 Cilaja agar memperhatikan kualitas dan porsi makanan, terutama sayuran.
“Mohon kepada dapur pengelola SPPG yang memberikan MBG ke SD Negeri 1 Cilaja, yang pantaslah untuk memberikan sayur. Tidak ada yang sakit karena kelebihan makan sayur,” tegasnya.
Tuti menilai menu yang disajikan terlalu sedikit untuk ukuran kebutuhan gizi anak sekolah.
“Jadi ini tidak layak, masa iya tiga potong wortel, tiga potong pakcoy. Anak-anak ini harus jadi perhatian,” katanya.
Dengan nada tegas, Wabup bahkan mengaku tersinggung melihat menu yang diberikan kepada siswa.
“Jadi makanan ini harus yang pantas, yang layak. Jangan ngahinakeun,” singgungnya.
Menurut Tuti, anak-anak justru banyak yang menyukai sayur. Karena itu, ia menolak pola pikir sekadar memenuhi formalitas dalam penyajian makanan.
“Anak-anak ini pada suka makan sayur, tapi diberinya hanya sebatas ‘tos lah nu penting mah aya’. Kasihan,” ujarnya.
Dalam sidak tersebut, pihak sekolah juga melaporkan bahwa selama dua pekan sebelumnya paket MBG tidak disertai susu. Padahal berdasarkan ketentuan, pemberian susu seharusnya dilakukan dua kali dalam satu minggu.
Mendengar laporan itu, Tuti langsung menghubungi Korwil SPPI Kabupaten Kuningan, Nissa Rahma, untuk memastikan mekanisme pemberian susu.
“Nah harusnya seminggu dua kali pemberian susu untuk anak-anak kami. Jadi mohon seluruh SPPG ikuti SOP, karena kami pasti akan menerima laporan,” tegasnya.
Ia mengingatkan bahwa program MBG sudah dibiayai negara, sehingga pelaksana harus menjalankannya sesuai standar.
“Mereka (SPPG, red) sudah dibiayai negara untuk memberikan makanan kepada anak-anak kami. Ini sudah difasilitasi negara, sehingga dapur SPPG tinggal menjalankan saja,” katanya.
Sidak tak berhenti di SDN 1 Cilaja. Beberapa hari kemudian Tuti kembali turun ke SDN 1 Gandasoli di Kecamatan yang sama. Di sekolah tersebut, ia lebih dulu bertanya kepada siswa apakah sudah sarapan di rumah. Jawabannya, sebagian besar belum. MBG pun biasanya dikonsumsi sekitar pukul 09.00 WIB.
Berbeda dengan temuan sebelumnya, menu MBG di SDN 1 Gandasoli justru mendapat apresiasi dari adik kandung mantan Bupati Kuningan Almarhum H Acep Purnama itu.
“Nah ini sangat menarik. Cuma buahnya saja sedikit, ditambahkan agak besar,” kata Tuti.
Meski demikian, ia tetap memberi catatan agar lauk seperti tahu tidak disajikan secara polos.
“Kalau diberikan tahu yang kuning jangan satu begitu saja, tapi coba diolah lagi. Karena kalau kita diberikan tahu itu kan enaknya panas-panas. Biar anak-anak juga habis makannya,” pinta Tuti.
Sidak tersebut menjadi pesan tegas bahwa pelaksanaan MBG di Kabupaten Kuningan tidak boleh hanya sekadar berjalan, tetapi juga harus memenuhi aspek kualitas, kecukupan gizi dan kelayakan bagi siswa.
“Kasihan lah, jangan seperti itu,” tutupnya.
SIWINDU.COM Berita Kuningan Terbaru Hari Ini