Siwindu.com – Anggota DPR RI Fraksi Partai Golkar, Agun Gunandjar Sudarsa, menggelar sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan di lingkungan Universitas Islam Al-Ihya (Unisa) Kuningan. Dalam kegiatan tersebut, Agun menyoroti pentingnya penguatan karakter kebangsaan bagi generasi muda di tengah derasnya perkembangan era digital.
Menurutnya, kemajuan teknologi, ekonomi hingga perubahan sosial tidak akan cukup jika tidak dibarengi dengan kualitas sumber daya manusia yang memiliki fondasi kebangsaan yang kuat.
Agun mengaku sengaja memilih Unisa Kuningan sebagai lokasi sosialisasi karena melihat perkembangan kampus yang semakin dikenal luas, termasuk karakter mahasiswa yang dinilainya kritis dan mampu mengikuti dinamika zaman.
“Sekarang kampus ini sudah mulai dikenal. Mahasiswanya juga kritis, cara berpikirnya sudah masuk era digital. Artinya mereka sedang mempersiapkan diri dengan cukup baik menghadapi masa depan,” ujar Agun, kala diwawancarai sejumlah wartawan di lokasi kegiatan, Selasa (19/5/2026).
Tak hanya itu, Agun menyebut dirinya memiliki kedekatan dengan sejumlah tokoh pengelola kampus dan akademisi yang selama ini aktif dalam isu sosial, ekonomi, hingga politik.
Dalam pemaparannya, anggota Komisi XIII DPR RI itu menyampaikan bahwa materi sosialisasi kali ini dibuat lebih kontekstual. Ia tidak hanya membahas Empat Pilar secara normatif, tetapi mencoba mengaitkannya dengan kehidupan mahasiswa sehari-hari.
Menurutnya, tantangan generasi muda saat ini bukan sekadar bagaimana menguasai teknologi, melainkan bagaimana tetap memiliki identitas kebangsaan ketika dunia bergerak semakin cepat.
“Teknologi bisa maju, ekonomi berkembang, politik berubah. Tapi kalau manusianya tidak punya karakter kebangsaan, semuanya bisa kembali kacau,” katanya.
Agun menegaskan, nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila harus hadir dalam tindakan nyata, mulai dari pola pikir, sikap, hingga perilaku mahasiswa di lingkungan kampus.
Ia mencontohkan, kedisiplinan dalam proses pendidikan juga merupakan bentuk implementasi nilai kebangsaan dan penghormatan terhadap aturan.
“Semua ada proses. Tidak mungkin semester satu langsung lompat ke semester empat. Itu bagian dari pendidikan karakter, menghargai aturan dan tahapan,” ucapnya.
Dalam sesi dialog, Agun juga menanggapi berbagai pertanyaan mahasiswa terkait isu Hak Asasi Manusia (HAM) yang belakangan menjadi perhatian publik. Sebagai anggota Komisi XIII yang membidangi HAM, ia menilai pemahaman mengenai hak asasi tidak boleh dipandang secara parsial.
Ia menekankan bahwa hak setiap individu memang dijamin negara, namun pelaksanaannya tetap harus memperhatikan hak orang lain sebagaimana diatur dalam konstitusi.
“Setiap orang punya hak asasi. Tetapi ketika menjalankan haknya, tetap ada batas untuk menghormati hak orang lain. Itu sudah diatur dalam Pasal 28J UUD,” jelasnya.
Agun kemudian membandingkan konsep HAM dalam berbagai ideologi, mulai dari liberalisme, sosialisme, hingga pendekatan Indonesia yang berlandaskan Pancasila.
Menurutnya, Indonesia mengambil posisi yang khas karena mengakui hak individu sekaligus kepentingan sosial masyarakat, serta menempatkan nilai ketuhanan sebagai dasar kehidupan berbangsa.
“Kita mengakui hak individu, mengakui hak masyarakat, dan negara ini juga berdiri di atas nilai Ketuhanan Yang Maha Esa. Itu yang membedakan dengan konsep lain,” tegas Agun yang merupakan senior HMI itu.
SIWINDU.COM Berita Kuningan Terbaru Hari Ini