Kampung Ramadan Desa Silebu Putar Rp1,2 Miliar, Natadaya Pemda Masih Wacana?

Februari 21, 2026 191 Dilihat

Siwindu.com – Di tengah gencarnya Pemerintah Kabupaten Kuningan menggulirkan program Natadaya sebagai konsep penataan alun-alun desa menjadi pusat ekonomi, wisata, dan budaya, Desa Silebu, Kecamatan Pancalang, justru telah lebih dulu menjalankan praktik tersebut secara nyata.

Melalui Program Kampung Ramadan yang kini memasuki tahun ke-9, Karang Taruna Nirwana Desa Silebu berhasil menghidupkan alun-alun desa sebagai pusat ekonomi rakyat, ruang budaya, sekaligus ruang spiritual masyarakat.

Kampung Ramadan Desa Silebu Putar Rp1,2 Miliar, Natadaya Pemda Masih Wacana?
Sekretaris Karang Taruna Nirwana Desa Silebu Kecamatan Pancalang Kabupaten Kuningan, Yayat Amarulloh. Foto: ist

Sekretaris Umum Karang Taruna Nirwana Silebu, Yayat Hidayatulloh, menegaskan, apa yang dilakukan pemuda Silebu bukan sekadar bazar musiman.

“Kami tidak hanya membuka lapak jualan. Yang kami bangun adalah ekosistem. Ada kajian keagamaan, lomba Islami, santunan sosial, dan berbagai aktivitas yang memang dirancang untuk menghidupkan alun-alun sebagai ruang publik,” ujar Yayat, Sabtu (21/2/2026).

Menurutnya, setiap tahun sekitar 80 lapak UMKM dan pedagang kaki lima terlibat dalam kegiatan tersebut. Jika diasumsikan rata-rata omzet per lapak mencapai Rp500 ribu per hari, maka sirkulasi ekonomi harian bisa mencapai Rp40 juta.

“Kalau dihitung selama 30 hari Ramadan, potensi perputaran uangnya bisa menyentuh Rp1,2 miliar. Ini memang estimasi konservatif, tapi dampaknya nyata dirasakan pelaku UMKM,” jelasnya.

Yayat menilai, secara substansi Kampung Ramadan di Silebu telah menjalankan tiga pilar utama yang menjadi ruh Natadaya, yakni penguatan ekonomi lokal, aktivitas budaya-religius, dan peningkatan daya tarik kunjungan masyarakat ke alun-alun desa.

“Kalau kita bicara konsep, Natadaya itu bagus. Tapi praktiknya di Silebu sudah berjalan hampir satu dekade. Kami menghidupkan alun-alun tanpa harus menunggu proyek fisik besar atau anggaran miliaran rupiah,” tegasnya.

Ia menyebut kekuatan utama gerakan tersebut terletak pada kolaborasi dan modal sosial masyarakat desa.

“Kami menggandeng pemerintah desa, tokoh agama, lembaga pendidikan, dan masyarakat. Jadi yang bergerak itu kolektif, bukan individu,” katanya.

Baca Juga:  Tarawih Keliling di Silebu, Dandim Kuningan Ingatkan Pembangunan Harus Dimulai dari Desa

Yayat secara terbuka menilai tantangan kebijakan publik sering kali bukan pada konsep, melainkan pada implementasi.

“Kadang program terlihat bagus di atas kertas, tapi belum terasa dampaknya di lapangan. Sementara di desa, kalau kita menunggu semuanya sempurna dulu, tidak akan pernah bergerak,” ujarnya.

Menurutnya, apa yang dilakukan Karang Taruna Nirwana Silebu bisa menjadi model pembangunan berbasis komunitas atau community-driven development.

“Pemerintah daerah sebenarnya tinggal membaca dan memperkuat. Kalau desa sudah bisa membuktikan perputaran ekonomi miliaran rupiah dalam satu bulan, artinya pendekatan berbasis komunitas ini efektif,” tambahnya.

Kampung Ramadan Silebu yang telah berjalan sembilan tahun menjadi bukti konsistensi gerakan pemuda desa.

“Pemuda itu jangan hanya jadi pelengkap acara atau tenaga teknis. Kami ingin membuktikan bahwa pemuda bisa menjadi motor ekonomi desa,” kata Yayat.

Ia menegaskan, alun-alun desa tidak harus menunggu penataan fisik megah untuk hidup.

“Yang membuat ruang publik hidup itu aktivitasnya, partisipasinya, dan rasa memiliki masyarakat. Bukan semata-mata bangunannya,” pungkasnya.

Dengan capaian perputaran ekonomi yang diperkirakan mencapai Rp1,2 miliar selama Ramadan, Kampung Ramadan Silebu kini menjadi contoh konkret bagaimana energi komunitas pemuda Karang Taruna mampu bergerak lebih cepat dari kebijakan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *