Dari Kota Wali ke Panggung Nasional: Batik dan Topeng Cirebon Naik Kelas Lewat Pendampingan Berkelanjutan

Dari Kota Wali ke Panggung Nasional: Batik dan Topeng Cirebon Naik Kelas Lewat Pendampingan Berkelanjutan
Kolaborasi batik nasabah PNM Mekaar Cirebon dengan desainer ternama Rinaldy Yunardi dalam rangkaian Sonderlab x Kaca Kreatif, menghadirkan karya bernilai budaya dan berdampak sosial bagi pendidikan Indonesia. (Foto: ist)
Februari 21, 2026 53 Dilihat

Siwindu.com – Di balik geliat usaha kecil yang tumbuh di sudut-sudut kampung, ada proses panjang yang kerap tak terlihat. Proses belajar, mencoba, jatuh, lalu bangkit kembali menjadi bagian dari perjalanan para perempuan prasejahtera dalam membangun usaha. Bagi mereka, kesempatan berkembang bukan semata soal tambahan modal, tetapi juga tentang pendampingan dan akses menuju peluang yang lebih luas.

Melalui pendekatan pemberdayaan menyeluruh, PT Permodalan Nasional Madani (PNM) menghadirkan dukungan berupa pembiayaan, pendampingan usaha, hingga akses jejaring kreatif bagi pelaku usaha ultra mikro, mikro, dan kecil agar mampu tumbuh secara berkelanjutan.

Di Kota Wali, komitmen tersebut tercermin dari kisah Ariri, nasabah PNM Mekaar Cabang Cirebon yang menekuni kerajinan batik. Karyanya mendapat kesempatan berkolaborasi dengan desainer aksesori ternama, Rinaldy Yunardi, dalam rangkaian kegiatan Sonderlab x Kaca Kreatif pada 23–26 Oktober 2025.

Karya kolaboratif tersebut ditampilkan sekaligus dilelang, dengan seluruh hasilnya didonasikan untuk mendukung pendidikan di Indonesia. Kolaborasi ini menjadi bukti bahwa karya pelaku usaha ultra mikro tak hanya memiliki nilai ekonomi, tetapi juga mampu menghadirkan dampak sosial yang lebih luas.

“Saya tidak pernah menyangka usaha batik yang sederhana bisa tumbuh sejauh ini. Terima kasih kepada PNM yang selalu mendampingi, memberi pelatihan, hingga akhirnya saya diberi kesempatan berkolaborasi dengan desainer sekelas Rinaldy Yunardi. Ini bukan hanya kebahagiaan bagi saya, tapi juga kebanggaan bagi keluarga dan daerah saya,” ujar Ariri.

Tak hanya batik, kerajinan topeng khas Cirebon juga menunjukkan potensi serupa. Dari lebih dari 22,9 juta nasabah yang telah diberdayakan hingga Januari 2026, Sri, pengrajin topeng asal Kota Udang, menjadi salah satu contoh pelaku usaha yang dinilai siap melangkah ke panggung nasional.

Baca Juga:  Tak Hanya Bantu Permodalan, PNM juga Latih Warga Cigugur Bertani di Pekarangan Sendiri

Sejak 2010, Sri menekuni usaha kerajinan topeng yang berakar dari kecintaannya pada seni tradisi. Pengalamannya sebagai penari topeng di Keraton Kasepuhan Cirebon membentuk kedekatan emosional dengan warisan budaya tersebut. Inovasi pun terus dilakukan, mulai dari produksi topeng kayu tradisional hingga pengembangan produk turunan seperti pulpen, pensil, dan magnet kulkas berhias topeng agar seni tradisi tetap hadir dalam keseharian masyarakat.

Momentum penting hadir pada 2022 saat Sri bergabung dalam program Mekaar. Ia mendapatkan pendampingan usaha, pelatihan manajemen, serta akses pameran. Perjalanan itu berlanjut pada 2025 melalui program Mekaarpreneur, yakni inkubasi usaha intensif selama tiga bulan di Bandung.

Pemimpin Cabang PNM Cirebon, Erwin Syafriadi, menegaskan bahwa pendampingan berkelanjutan menjadi kunci agar pengusaha memiliki daya saing tanpa kehilangan jati diri lokalnya. Menurutnya, penguatan kapasitas dan pembukaan akses pasar menjadi dua hal penting agar produk lokal mampu menembus pasar yang lebih luas.

Kisah Ariri dan Sri menjadi gambaran nyata bahwa dengan akses pembiayaan, pembinaan yang konsisten, serta ruang aktualisasi, warisan budaya tak hanya terjaga, tetapi juga tumbuh sebagai sumber kesejahteraan bagi keluarga dan masyarakat sekitar. Dari Kota Wali, karya batik dan topeng Cirebon kini melangkah lebih jauh, menembus panggung nasional dengan identitas yang tetap kuat dan membumi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *